Sukses

Jelang IPO, Saham GMF Kelebihan Permintaan 2,6 Kali

Liputan6.com, Jakarta PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMF), anak usaha PT Garuda Indonesia  menutup masa penawaran umum saham untuk publik yang berlangsung pada 2, 3, dan 4 Oktober 2017. Tercatat, total hasil penjualan mencapai 146.358.100 juta lembar saham, dari yang dicatatkan 56.467.100 lembar saham. 

GMF mengalami over-subscribe sebesar 2,6 kali yang saat ini sedang direkonsiliasi pembayarannya. GMF segera resmi menjadi perusahaan publik pada 10 Oktober 2017.

Direktur Utama GMF Iwan Joeniarto mengatakan, pendapatan penawaran umum perdana saham ini menunjukan bahwa animo publik terhadap penawaran saham GMF positif.

Ia juga yakin bahwa penawaran saham umum ini akan memberikan nilai tambah yang berkelanjutan untuk para investor dan mewujudkan visi GMF menjadi Top 10 MRO in the World.

“Melalui IPO, GMF berkomitmen untuk berkontribusi pada perekonomian bangsa. “Dengan melepaskan saham perusahaan, rencana ekspansi akan lebih cepat berjalan. Kami akan membuka lapangan pekerjaan lebih banyak, memberi nilai tambah bagi pemegang saham, serta membayar pajak lebih banyak. Kami akan berusaha maksimal untuk terus mendukung perekonomian Indonesia,” dia menjelaskan.

Perseroan menetapkan harga saham perdana Rp 400 per saham dari kisaran harga yang ditawarkan Rp 390-Rp 510 per saham dalam rangka penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).

Sebelumnya, perseroan sudah mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 29 September 2017. Total saham yang ditawarkan GMF dalam initial public offering (IPO) sebanyak 2.823.351.100 lembar saham yang keseluruhannya merupakan saham baru atau sebanyak 10 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor GMF setelah IPO. Total dana yang akan diraup dari IPO sebanyak Rp 1,12 triliun.

Perseroan memangkas jumlah saham yang ditawarkan dari rencana awal sebanyak-banyaknya sebesar 10.890.068.700 lembar saham yang keseluruhannya merupakan saham baru, atau setara dengan sebanyak-banyaknya sebesar 30 persen dari jumlah modal ditempatkan dan disetor perusahaan setelah IPO, dengan komposisi 20 persen untuk publik dan 10 persen untuk investor strategis.

Artikel Selanjutnya
Bank Mandiri Bakal Pecah Nominal Nilai Saham
Artikel Selanjutnya
BEI Buka Suspensi, Saham Minna Padi Melonjak 21,32 Persen