Sukses

PLTG Senipah Tunggu Jaminan Perpanjangan Gas dari Blok Mahakam

Liputan6.com, Jakarta PT Kartanegara Energi Perkasa menunggu kepastian perpanjangan pasokan gas dari Blok Mahakam, untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Senipah berkapasitas 82 megawatt (MW).

Direktur ‎Kartanegara Energi Perkasa, Renzi Renditya‎, mengatakan, kontrak pasokan gas dari Blok Mahakam sebesar 20 ribu MMBTU per hari untuk PLTG Senipah akan berakhir. Seiring dengan habisnya kontrak PT Total E & P sebagai operator Blok Mahakam pada akhir 2017.

"Dengan Total sampai selesai kontrak Total," kata Renzi, di kawasan bisnis Sudirman, Jakarta, Senin (9/10/2017).

Menurut Renzi, perusahaannya sudah berbicara dengan PT Pertamina (Persero) selaku operator Blok Mahakam berikutnya. Dia berharap akan mendapat prioritas pasokan gas. Pasalnya, sektor kelistrikan menjadi salah satu konsumen dalam negeri yang mendapat prioritas.

"Dengan siapa pun yang nanti pegang Blok Mahakam, kita siap. Tapi kan ini untuk listrik, saya rasa jadi ‎prioritas juga ya seharusnya," ucap Renzi.

Renzi mengungkapkan, pembicaraan pasokan gas untuk kontrak berikutnya belum menyentuh perubahan harga. Anak usaha PT Toba Sejahtera ini masih menunggu keputusan dari pemerintah.

"Belum tahu kita tunggu saja nanti pemerintah putusannya gimana. Kita sudah bagian dari konsumsi domestik dalam negeri seharusnya diprioristaskan," dia menandaskan.

1 dari 2 halaman

Jonan Ingin Porsi Energi dari PLTG Lebih Banyak Dibanding PLTU

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menginginkan pembangunan pembangkit listrik berenergi gas digenjot. Pasalnya, pemerintah telah memprioritaskan alokasi gas untuk sektor kelistrikan.

Jonan mengatakan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), sektor kelistrikan harus mendapat prioritas pasokan gas. Dilatarbelakangi arahan tersebut, dia telah menerbitkan Keputusan Menteri ESDM yang mengatur besaran dan sumber pasokan gas untuk pembangkit listrik berbahan bakar gas.

"Saya sudah‎ keluarkan Kepmen buat turbin-turbin PLN sudah ditentukan pasok berapa dan dari mana sebagainya," kata Jonan, dalam acara Forum Gas Nasional, di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (3/5/2017).

Setelah menetapkan alokasi dan sumber gas dalam Keputusan Menteri, Jonan meminta dalam waktu dekat ada pembangunan ‎pembangkit yang menggunakan energi gas untuk memproduksi listrik.

"Minggu ini saya sudah minta untuk buat lagi PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) dan PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap) itu dan PLTMG (Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas) itu alokasi gasnya akan diputuskan pemerintah," papar dia.

Menurut Jonan, dengan adanya kepastian alokasi gas, jumlah pembangkit berenergi gas dapat meningkat, bahkan lebih besar dari kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang mengonsumsi batu bara.‎

Dari 60 gigawatt (GW) kapasitas listrik Indonesia, saat ini 55 persen dipasok dari PLTU. ‎Jonan menginginkan porsi PLTU menurun dan pembangkit gas naik, seiring dengan pertambahan kapasitas listrik Indonesia yang ditargetkan menjadi 115 GW pada 2025.

‎"Kalau mau saya 2025 karena ‎dari 60 GW jadi minimal 115 GW dalam 7 sampai 8 tahun mendatang harusnya penggunaan batu bara turunlah kalau bisa 40 persen, gas saja yang naik," tutup Jonan.

Artikel Selanjutnya
BPH Migas Tetapkan Tarif Baru Pengangkutan Gas Arun-Belawan
Artikel Selanjutnya
Pertamina Pasok Gas untuk Pembangkit Listrik PLN di Gresik