Sukses

3 Tahun Jokowi-JK, Penyerapan Tenaga Kerja Capai Target

Liputan6.com, Jakarta - Masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) akan memasuki usia tiga tahun. Lantas bagaimana kinerja pemerintah sektor tenaga kerja selama tiga tahun terakhir?

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan, selama tiga tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja di dalam negeri terbilang cukup memuaskan. Sebab, target penyerapan tenaga kerja yang ditargetkan sebanyak 2 juta orang per tahun selalu tercapai, bahkan melebihi target.

"Penyerapan tenaga kerja dalam tiga tahun terakhir kita sudah melebihi target dua juta per tahun," ujar dia di Jakarta, Kamis (12/10/2017).

Namun Hanif mengakui, yang masih menjadi permasalahan saat ini yaitu kualitas dari pekerjaan ‎yang tersedia. Menurut dia, untuk meningkatkan kualitas dari pekerjaan, maka investasi dan sektor industri harus terus tumbuh.

"Mungkin yang masih ada soal mengenai kualitas dari pekerjaan itu. Ini makanya investasi harus terus didorong, industri harus dipastikan bisa tumbuh, itu kan agar kualitas pekerjaan jadi lebih baik," tandas dia.

Sebelumnya, data terbaru dari Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO menyebut jumlah pengangguran dunia tahun ini mencapai lebih dari 201 juta, atau meningkat 3,4 juta dibanding 2016.

Dikutip dari laman VOA Indonesia, Rabu (11/10/2017), ILO mengatakan bahwa sektor swasta, terutama usaha kecil dan menengah, memainkan peran penting dalam menciptakan lapangan kerja yang layak di seluruh dunia.

Kajian ILO tentang "Prospek Lapangan Kerja dan Sosial 2017: Usaha dan Pekerjaan Berkelanjutan" menyebut, bisnis swasta menyumbang hampir 3 miliar pekerja -- atau 87 persen dari total lapangan kerja global.

Menurut laporan dari ILO, sektor publik yang lebih kuat adalah fondasi pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan.

Wakil Direktur Jenderal ILO Deborah Greenfield mengatakan, berinvestasi pada pekerja merupakan kunci keberlanjutan usaha. Dia juga mengatakan, memberikan pelatihan formal untuk pekerja tetap menghasilkan upah yang lebih tinggi, produktivitas yang lebih tinggi, dan biaya tenaga kerja yang lebih rendah.

Di samping itu, Greenfield juga mengatakan, pekerja sementara berada pada posisi yang kurang menguntungkan. "Penggunaan tenaga kerja sementara dikaitkan dengan pemberian upah yang lebih rendah. Namun hal itu justru menimbulkan produktivitas yang lebih rendah tanpa mencapai keuntungan signifikan dalam biaya unit kerja," kata Greenfield.

Laporan tersebut juga menemukan, pelatihan di tempat kerja merupakan pendorong inovasi yang penting. "Karena pekerja sementara waktu jarang mendapatkan pelatihan. Hal itu juga dapat mempengaruhi inovasi di perusahaan secara negatif," tambah Greenfield.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
Realisasi Fisik Infrastruktur Capai 52,41 Persen hingga Agustus
Artikel Selanjutnya
Menteri PU-PR Maknai Idul Adha dengan Ikhlas Kerja Keras