Sukses

Melihat Potensi Saham Rokok di Tengah Bayang-Bayang Cukai

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki paruh kedua tahun ini, perang kenaikan harga rokok di industri tembakau Indonesia mulai mereda seiring dengan keluarnya produk baru dengan harga yang bersaing.

Empat pemain besar di industri ini yang gencar mengeluarkan produk baru sejak pertengahan 2015 hingga 2016, perlahan menahan harga karena kenaikannya sudah terlalu tinggi. Menurut PT Bahana Sekuritas, ada sejumlah hal yang menguntungkan industri tembakau pada tahun depan, yang juga masih disertai beberapa risiko yang patut dicermati.

Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN 2018), terlihat rencana kenaikan cukai tidak akan setinggi tahun ini. Bila pada tahun ini rata-rata kenaikan cukai rokok 10-11 persen, pada tahun depan kenaikan cukai bakal berada pada kisaran 7-9 persen.

"Dalam lima tahun terakhir, rata-rata kenaikan cukai rokok lebih tinggi dari kenaikan inflasi, bila tahun depan kenaikan cukai rokok tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya, akan memberi dampak positif bagi industri rokok, " ungkap Analis PT Bahana Sekuritas Michael Setjoadi, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (13/10/2017).

"Namun di sisi lain, pemerintah semakin ketat mengatur iklan rokok yang bisa tayang di televisi ataupun di tempat umum, ditambah lagi larangan merokok di tempat umum semakin digencarkan," ia menambahkan.

PT Bahana Sekuritas memperkirakan volume penjualan rokok tahun depan masih akan mengalami kontraksi sekitar 1-1,5 persen, dibandingkan penjualan tahun ini yang diperkirakan turun sebesar 1,5 persen.

Volume produksi rokok diperkirakan akan mencapai 318,8 miliar batang pada tahun depan, naik dibandingkan perkiraan volume produksi tahun sekitar 315,6 miliar batang. Dari empat pemain besar di industri tembakau Indonesia, PT Bahana Sekuritas merekomendasikan beli untuk saham PT Gudang Garam Tbk (GGMR).

Ini karena pada tahun depan diperkirakan daya beli masyarakat akan kembali pulih khususnya masyarakat menengah ke bawahyang pada umumnya adalah target pasar PT Gudang Garam Tbk.

Salah satu hal yang menolong pulihnya daya beli masyarakat adalah perhelatan pilkada dan juga kampanye pemilihan presiden yang diperkirakan dimulai pada paruh kedua tahun depan. Pilkada diperkirakan meningkatkan konsumsi untuk wilayah di luar kota.

Lebih rendahnya kenaikan cukai rokok pada tahun depan akan lebih menguntungkan bagi Gudang Garam. Laba bersihdiperkirakan naik sebesar 6 persen menjadi Rp 7,25 triliun dari perkiraan laba bersih sepanjang 2017 sekitar Rp 6,85 triliun.

PT Bahana Sekuritas memperkirakan GGRM akan diperdagangkan dengan price earning (PE) sebesar 17,6 kali pada 2018, dibandingkan dengan kompetitornya Sampoerna yang diperkirakan diperdagangkan sebesar 34,9 kali PE pada tahun depan. PT Bahana Sekuritas menargetkan harga saham GGRM sebesar Rp 79.000 per lembar saham.

Sementara itu, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) masih akan meluncurkan beragam produk baru dengan target pasar yang berbeda. Saat ini, keberadaan produk A Mild menyasar pasar premium, produk U Mild untuk masyarakat menengah. Adapun Magnum Mild yang baru saja diperkenalkan ke pasar untuk menyasar masyarakat menengah ke bawah.

Perusahaan berkode saham HMSP ini cukup efisien karena satu mesin produksi dapat digunakan untuk memproduksi beragam produk karena kemasan rokok yang sama untuk semua produk.

Berbeda dengan Gudang Garam yang memiliki satu mesin untuk setiap produknya. Anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) ini memperkirakan laba bersih HMSP hanya naik sekitar 1 persen menjadi Rp 12,87 triliun pada 2018. Dari laba bersih tahun ini yang diperkirakan mencapai Rp 12,76 triliun. PT Bahana Sekuritas merekomendasikan beli dengan target harga Rp 4.200 per lembar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Artikel Selanjutnya
IHSG Berpeluang Menghijau, Cermati Saham Pilihan Ini
Artikel Selanjutnya
Tekanan Jual Masih Besar, IHSG Bakal Bervariasi