Sukses

Sepi Sentimen, Rupiah Betah di Posisi 13.500 per Dolar AS

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung melemah di tengah sepi sentimen pada perdagangan Rabu pekan ini.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) rupiah susut 24 poin dari posisi 13.490 pada 17 Oktober 2017 menjadi 13.514 pada 18 Oktober 2017.

Sementara itu, mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka naik tipis terhadap dolar AS. Rupiah berada di posisi 13.506 per dolar AS dari penutupan perdagangan Selasa 17 Oktober 2017 di posisi 13.507. Hingga Rabu siang ini, rupiah bergerak di kisaran 13.501-13.516 per dolar AS.

Ekonom BCA David Sumual menuturkan, pasar keuangan cenderung sepi sentimen. Oleh karena itu, pergerakan nilai tukar rupiah cenderung sempit di posisi 13.500 per dolar AS.

David menambahkan, sejumlah rilis data ekonomi yaitu rilis data produksi Amerika Serikat meningkat dan inflasi zona euro stabil. Sentimen itu membayangi pergerakan nilai tukar mata uang.

Sedangkan dari dalam negeri, David mengatakan, pelaku pasar menanti pengumuman suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau 7 days reverse repo rate.

"Tidak ada sentimen. Yang diperhatikan data-data ekonomi Amerika Serikat dan di Asia, pelaku pasar mencermati pidato Presiden China Xi Jinping," ujar David saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (18/10/2017).

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Rupiah Sempat Tertekan

Sebelumnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Selasa pekan ini.

Mengutip Bloomberg, Selasa 17 Oktober 2017, rupiah dibuka di angka 13.489 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.476 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.478 per dolar AS hingga 13.505 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 0,22 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.490 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 13.483 per dolar AS.

Dolar AS memang menguat di kawasan Asia pada perdagangan Selasa pekan ini didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi Surat Utang AS menyusul keluarnya sebuah laporan bahwa Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa ia mendukung langkah kebijakan dari Bank Sentral AS.

Trump akan bertemu dengan Gubernur Bank Sentral AS Janet Yellen pada Kamis lalu untuk mencari kandidat gubernur baru. "Pertemuan ini akan menjadi dasar langkah kebijakan Trump dan Bank Sentral AS ke depan," jelas analis senior IG Securities, Tokyo, Jepang, Junichi Ishikawa.

Untuk diketahui, rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS sepanjang September 2017. Sementara itu, terhadap mata uang lain, rupiah cenderung menguat atau terapresiasi.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, pada September 2017, rupiah terdepresiasi 0,23 persen terhadap dolar AS. Level terendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar AS terjadi pada minggu keempat September 2017 yang mencapai Rp 13.352,92 per dolar AS.

Nilai tukar eceran rupiah terhadap dolar AS pada minggu pertama hingga ketiga September 2017 cenderung terapresiasi. Namun, di minggu terakhir September 2017, rupiah mengalami depresiasi dibanding minggu terakhir Agustus 2017.

Level terendah nilai tukar rupiah pada minggu terakhir Agustus 2017 tercatat di Kalimantan Utara sebesar Rp 13.386 per dolar AS, sementara pada minggu terakhir September 2017 terjadi di Sulawesi Utara yaitu Rp 13.430,5 per dolar AS.

Sedangkan untuk level tertinggi, nilai tukar pada minggu terakhir Agustus 2017 terjadi di Papua sebesar Rp 13.207,63 per dolar AS dan pada minggu terakhir September 2017 di Nusa Tenggara Timur dengan nilai tengah Rp 13.185 per dolar AS.

Artikel Selanjutnya
Menunggu Pidato Yellen, Rupiah Bergerak Menguat
Artikel Selanjutnya
Inflasi AS di Bawah Perkiraan, Rupiah Kembali Menguat