Sukses

Saham Apple Dorong Wall Street Cetak Level Tertinggi

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street catatkan rekor tertinggi didorong harga saham produsen videogame yang reli. Ditambah kapitalisasi pasar saham Apple naik menjadi di atas US$ 900 miliar.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu, (Kamis pagi WIB), ketiga indeks saham acuan cetak rekor. Indeks saham Dow Jones naik 0,03 persen ke posisi 23.563,36. Indeks saham S&P 500 menguat 0,14 persen ke posisi 2.594,38. Indeks saham Nasdaq bertambah 0,32 persen ke posisi 6.789,12.

Saham take-two interactive software melonjak 10,58 persen usai produsen videogame merilis pendapatan lebih kuat dari yang diharapkan. Hal ini juga berimbas ke pesaingnya dengan saham Activision Blizzard naik 5,89 persen dan Electronic Arts melonjak 2,19 persen.

Sentimen lainnya yaitu optimisme pembelian iPhone X juga menjadi katalis positif untuk Apple. Saham Apple naik 0,82 persen dan mendorong kapitalisasi pasar Apple mencapai US$ 905 miliar.

Sementara itu, investor juga khawatir terhadap rencana partai Republik soal pemangkasan pajak korporasi dan menghilangkan sejumlah pajak. Rencana pemangkasan pajak tersebut juga masih membutuhkan persetujuan di legislatif.

"Ini sangat kompleks. Akan ada sejumlah hal yang diberikan dan diambil sebelum keputusan paket final pajak divoting," ujar Tim Dreiling, Regional Investment Director US Bank Private Wealth Management seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (9/11/2017).

Sebelumnya indeks saham S&P 500 naik 21 persen sejak Presiden AS Donald Trump memenangkan pemilu pada tahun lalu. Hal itu didorong sentimen janji kampanye Trump untuk memangkas pajak. Sektor saham teknologi naik 0,5 persen didorong saham Qualcomm naik 2,7 persen usai luncurkan server processor saingi  Intel. Saham Intel tergelincir 0,17 persen.

Sentimen lain menggerakkan pasar antara lain kepemilikan saham Snapchat oleh pemilik Snap turun 14,62 persen. Snap menyatakan, Tencent membeli 12 persen saham snap. Volume perdagangan saham di wall street tercatat 7 miliar saham. Angka itu di atas rata-rata harian 6,5 miliar saham.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Dow Jones Cetat Rekor Kemarin

Indeks acuan Wall Street yaitu Dow Jones Industrial Average (DJIA) mencetak rekor tertinggi untuk keempat kalinya berturut-turut pada penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta) pekan ini. Sementara indeks acuan S&P 500 berakhir sedikit lebih rendah setelah perkiraan laba dari dari perusahaan teknologi Priceline mengecewakan dan adanya tekanan di sektor keuangan.

Mengutip Reuters, Rabu 8 November 2017, Dow Jones Industrial Average berakhir naik 0,04 persen ke level 23.557,23 setelah menghabiskan sebagian besar hari di wilayah negatif. S&P 500 turun 0,02 persen menjadi 2.590,64. Sedangkan Nasdaq Composite tergelincir 0,27 persen menjadi 6.767,78.

Pendorong penurunan indeks S&P 500 adalah saham-saham di sektor keuangan yang mengalami pelemahan 1,3 persen. Sedangkan beberapa sektor saham lain sebenarnya menguat meskipun tak terlalu tinggi. Contohnya, sektor utilitas dan sektor barang konsumsi naik kurang lebih 1 persen.

Goldman Sachs kehilangan 1,51 persen dan menjadi beban paling tinggi di Dow Jones. Sementara JPMorgan dan Bank of America termasuk di antara tiga yang menjadi beban terbesar dalam S&P 500.

Saham perusahaan yang membeirkan diskon kepada traveler yaitu Priceline merosot 13,52 persen sementara situs operator review perjalanan TripAdvisor turun 23,22 persen ke level terendah dalam lima tahun setelah kedua perusahaan tersebut memberikan perkiraan laba kuartalan yang tak besar.

"Perusahaan yang mengeluarkan perkiraan di bawah konsensus pasar akan mendapat hukuman berat. Itu adalah bukti bahwa ada kegugupan di pasar," kata chief executive officer Longbow Asset Management di Tulsa, Oklahoma, Jake Dollarhide.

Investor juga sedikit gugup dengan hasil dari rencana Partai Republik untuk melakukan reformasi perpajakan dengan memotong pajak perusahaaan. Rancangan Undang-Undang tersebut diperkirakan akan mengurangi pendapatan negara cukup besar.

Artikel Selanjutnya
Wall Street Menguat Terdorong Sentimen The Fed
Artikel Selanjutnya
Wall Street Melemah Usai Investor Alihkan Kekhawatiran Geopolitik