Sukses

Rekor Dunia, Pertamina Bor Blok Mahakam Cuma Butuh 4,3 Hari

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), anak usaha Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) mengklaim mencetak rekor waktu pengeboran tercepat untuk satu sumur minyak dan gas (migas) di Blok Mahakam, Kalimantan Timur. Hanya memakan waktu 4,3 hari.

Direktur Utama PHI, Bambang Manumayoso mengungkapkan, telah mengebor 11 sumur migas di Blok Mahakam per November ini. Jumlah tersebut dari 8 POD (Plan of Development) eksisting, dan 64 sumur yang disetujui untuk digali dengan harga minyak US$ 100 per barel.

"Tapi kan harga minyak kita dipatok US$ 48-US$ 50 per barel, jadi hanya bisa ngebor 11 sumur karena biaya banyak, tapi harga rendah. Dari 11 sumur itu, 9 sumur migas berada di area rawa dan 2 sumur sisanya di lepas pantai (offshore)," ujarnya di Jakarta, Kamis (9/11/2017).

Lebih jauh Bambang menjelaskan, ada 10 sumur yang berada di area rawa Tunu dan satu sumur di Handil. Dari hasil pengeboran sumur tersebut, sambungnya, perusahaan meningkatkan kemampuan sehingga memperoleh hasil yang maksimal, terutama di waktu pengeboran (drill day).

"Hasil dari pengeboran 11 sumur ini, kita lebih cepat 25 persen. Waktu pengeboran satu sumur hanya 4,3 hari yang selama ini belum pernah tercapai. Ini bakal jadi rekor di Indonesia dan di dunia," terangnya.

Hasil lainnya, kata Bambang, mampu menekan biaya pengeboran sumur sebesar 23 persen, tergantung kecepatan pengeboran. Dia bilang, ongkos pengeboran migas di satu sumur tahun ini sekitar US$ 8 juta. Biasanya satu sumur migas membutuhkan biaya pengeboran mendekati US$ 10 juta.

"Jadi kita bisa menekan biaya, lebih irit tapi hasilnya sama dan tetap aman," tegasnya.

Bambang menambahkan, dengan pengeboran 11 sumur tersebut, perusahaan dapat menambah cadangan migas sebesar 120 persen sehingga dapat meningkatkan produksi migas di tahun ini dan tahun depan.

"Penambahan cadangan migas 120 persen ini, berarti sekitar 40-50 TCF. Itu sudah cukup bagus menambah produksi," pungkasnya.

1 dari 2 halaman

Belum ada mitra

Bambang juga menyatakan bahwa Pertamina Hulu Indonesia siap mengelola 100 persen Blok Mahakam di Kalimantan Timur (Kaltim) per 1 Januari 2018. Hal tersebut terjadi karena belum ada perusahaan minyak dan gas (migas) dari domestik maupun asing yang resmi menjadi mitra Pertamina menggarap ladang migas tersebut.

Bambang menegaskan, PHI siap menjalankan mandat pemerintah untuk mengamankan energi nasional melalui pengelolaan Blok Mahakam mulai 1 Januari tahun depan. Meningkatkan produksi minyak untuk menutup kekurangan sekitar 500-600 ribu barel per hari yang masih harus dipenuhi dari impor.

"Kita siap mengelola Blok Mahakam 100 persen, tapi 10 persennya diserahkan ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Kita siap menjaga produksi karena kita punya gap besar, produksi minyak hanya 800 ribu barel per hari, tapi kebutuhannya mencapai 1,3-1,4 juta per hari," jelas Bambang.

Blok Mahakam, ia mengakui, masih memiliki cadangan migas besar sangat besar sekitar 57 MMBO dan 4,9 TSCF. Jika dibiarkan saja tanpa upaya pengeboran dan mencari sumur-sumur migas baru, kata Bambang, diperkirakan cadangan ini akan habis pada 2023.

"Kalau dibiarkan turun terus tanpa effort, akan habis di 2023 untuk gas. Begitupun dengan minyak dan kondensat semakin merosot cadangannya. Jadi kita punya program pengeboran, menambah sumur baru," jelas dia.

Sayangnya, Bambang mengatakan, saat ini belum ada perusahaan migas yang akan berkolaborasi dengan PHI untuk mengelola Blok Mahakam. Untuk diketahui, sebelumnya Total E&P Indonesia ingin bergabung dengan Pertamina menggali sumber daya alam di ladang migas tersebut, termasuk kabar terakhir niat Mubadala yang melirik Blok Mahakam.

Artikel Selanjutnya
Arcandra Bantah Exxon Hengkang dari Indonesia
Artikel Selanjutnya
PLN Beli Gas Jambaran-Tiung Biru Sebesar US$ 7,6 per MMBTU