Sukses

Penundaan Kebijakan Pemotongan Pajak Bawa Wall Street Turun

Liputan6.com, New York - Wall Street melemah pada penutupan perdagangan Kamis (Jumat pagi waktu Jakarta), terbebani penurunan saham perusahaan teknologi Microsoft dan lainnya.

Pasar juga terdampak investor yang mengalihkan perhatian mereka ke keputusan Senat dari Partai Republik yang menunda kebijakan pemotongan pajak perusahaan yang sangat diinginkan investor.

Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 0,43 persen berakhir ke posisi 23.461,94. Sementara indeks S&P 500 turun 0,38 persen menjadi 2.584,62. Sedangkan indeks Nasdaq Composite turun 0,58 persen menjadi 6.750,05.

Indeks S&P 500 telah melonjak sekitar 21 persen sejak pemilihan Presiden Donald Trump setahun yang lalu, didorong janji Trump untuk memotong pajak perusahaan dan mengambil tindakan bisnis lainnya.

Akhirnya, Senat Republik mengajukan sebuah proposal pajak yang sangat berbeda dari usulan Trump. Dalam proposal tersebut, senat menunda pemotongan pajak perusahaan sebesar 20 persen per tahun dan memberikan pemilik usaha kecil pengurangan pajak dengan tingkat khusus, menurut sumber.

Sebelumnya, ketidakpastian tentang pemotongan pajak perusahaan mendorong indeks S&P 500 turun sebanyak 1 persen. Ini menggarisbawahi seberapa besar Wall Street terdampak kebijakan pengurangan pajak.

"Sudah setahun sejak pemilihan. Saham kami sudah naik 22 persen dengan harapan janji Trump akan terlaksana, dan sementara mereka mencoba untuk memastikannya menuju hal ini, tapi mereka belum banyak menyelesaikannya," kata Michael O'Rourke, Kepala Strategi Pasar JonesTrading di Greenwich, Connecticut.

"Jika kemajuan tidak dilakukan, pasar ekuitas harus berhenti atau benar sampai kemajuan berarti tercapai," dia menambahkan.

Pasar juga dipengaruhi penurunan saham teknologi. Enam dari 11 sektor pada indeks S&P 500 turun, dengan sektor industri sebesar 1,28 persen dan teknologi sebesar 0,85 persen.

saham yang turun, Apple (AAPL.O), Microsoft (MSFT.O), Alphabet (GOOGL.O), Oracle (ORCL.N) dan Facebook (FB.O) menjadi saham yang paling banyak tertekan pada indeks S&P 500.

Sekitar 7,4 miliar saham berpindah tangan di bursa AS, di atas rata-rata 6,6 miliar harian selama 20 sesi terakhir.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

 

1 dari 2 halaman

Saham Apple Dorong Wall Street Cetak Level Tertinggi

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street kemarin mencatatkan rekor tertinggi didorong harga saham produsen videogame yang reli. Ditambah kapitalisasi pasar saham Apple naik menjadi di atas US$ 900 miliar.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu, (Kamis pagi WIB), ketiga indeks saham acuan cetak rekor. Indeks saham Dow Jones naik 0,03 persen ke posisi 23.563,36. Indeks saham S&P 500 menguat 0,14 persen ke posisi 2.594,38. Indeks saham Nasdaq bertambah 0,32 persen ke posisi 6.789,12.

Saham take-two interactive software melonjak 10,58 persen usai produsen videogame merilis pendapatan lebih kuat dari yang diharapkan. Hal ini juga berimbas ke pesaingnya dengan saham Activision Blizzard naik 5,89 persen dan Electronic Arts melonjak 2,19 persen.

Sentimen lainnya yaitu optimisme pembelian iPhone X juga menjadi katalis positif untuk Apple. Saham Apple naik 0,82 persen dan mendorong kapitalisasi pasar Apple mencapai US$ 905 miliar.

Sementara itu, investor juga khawatir terhadap rencana partai Republik soal pemangkasan pajak korporasi dan menghilangkan sejumlah pajak. Rencana pemangkasan pajak tersebut juga masih membutuhkan persetujuan di legislatif.

"Ini sangat kompleks. Akan ada sejumlah hal yang diberikan dan diambil sebelum keputusan paket final pajak divoting," ujar Tim Dreiling, Regional Investment Director US Bank Private Wealth Management seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (9/11/2017).

Sebelumnya indeks saham S&P 500 naik 21 persen sejak Presiden AS Donald Trump memenangkan pemilu pada tahun lalu. Hal itu didorong sentimen janji kampanye Trump untuk memangkas pajak. Sektor saham teknologi naik 0,5 persen didorong saham Qualcomm naik 2,7 persen usai luncurkan server processor saingi  Intel. Saham Intel tergelincir 0,17 persen.

Sentimen lain menggerakkan pasar antara lain kepemilikan saham Snapchat oleh pemilik Snap turun 14,62 persen. Snap menyatakan, Tencent membeli 12 persen saham snap. Volume perdagangan saham di wall street tercatat 7 miliar saham. Angka itu di atas rata-rata harian 6,5 miliar saham.

Artikel Selanjutnya
Usai Yellen Pidato, Wall Street Menguat Tipis
Artikel Selanjutnya
Komentar Trump Bikin Wall Street Tertekan