Sukses

Tiru Jokowi, Sri Mulyani Beri Pegawai Berkostum Terbaik Sepeda

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati memberikan hadiah satu buah unit sepeda kepada Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Jakarta, Oentarto Wibowo. Hadiah tersebut diserahkan karena Oentarto terpilih sebagai kostum terbaik di Hari Oeang ke-71.

Dari pantauan Liputan6.com, Jakarta, Jumat (10/11/2017), Sri Mulyani menyerahkan sepeda kepada Oentarto usai acara Pelantikan Pejabat Eselon II di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Saat upacara peringatan Hari Oeang ke-71 dan Hari Sumpah Pemuda pada 30 Oktober lalu, Sri Mulyani dan seluruh jajaran pegawai Kemenkeu mengenakan dress code baju adat dari Sabang sampai Merauke.

Selanjutnya terpilih Oentarto yang mengenakan kostum Gatot Kaca sebagai pemenang kategori kostum terbaik. Seperti gaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sering bagi-bagi hadiah sepeda saat menjawab pertanyaan, Sri Mulyani pun menerapkan gaya yang sama.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu memberikan hadiah satu buah unit sepeda kepada Oentarto. "Selamat," ucap Sri Mulyani singkat dan diikuti dengan kegembiraan Oentarto menjajal sepeda baru.

Tonton Video Pilihan Ini:

1 dari 2 halaman

Sri Mulyani Putar Kembali Sejarah 72 Tahun Lalu

Sri Mulyani Indrawati menjadi inspektur upacara dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang jatuh setiap 10 November. Dalam pidatonya, Sri Mulyani mengingatkan kembali perjuangan para pahlawan untuk mengusir penjajah yang menindas bangsa Indonesia.

Dari pantauan Liputan6.com, upacara Hari Pahlawan digelar di lapangan Kementerian Keuangan, Jakarta tepat pukul 08.00 WIB. Mengenakan batik lengan panjang dan celana panjang hitam, Sri Mulyani bertindak selaku inspektur upacara. Acara ini juga dihadiri oleh para pejabat dan pegawai di lingkungan Kementerian Keuangan. 

Dalam peringatan Hari Pahlawan, Sri Mulyani memutar kembali peristiwa 72 tahun silam di Hotel Yamato, Surabaya, Jawa Timur. Kala itu, katanya, Belanda mengibarkan bendera mereka di puncak hotel.

Tindakan tersebut merupakan upaya nyata dari Belanda untuk menegakkan kembali kekuasaan penjajahan atau kolonialisme. "Tindakan itu adalah tantangan nyata kepada Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945," ucap Sri Mulyani.

Dia melanjutkan, warga Surabaya kemudian berinisiatif naik ke puncak hotel untuk merobek bendera Belanda. Bendera merah putih biru dirobek oleh rakyat Indonesia menjadi bendera berwarna merah putih, bendera Indonesia.

Pada 10 November 1945 tersebut, Sri Mulyani mengatakan, tentara sekutu melancarkan serangan militer dilengkapi oleh perlengkapan perang yang canggih dan jauh lebih maju. Sementara para pejuang bangsa bersenjatakan bambu runcing namun disertai semangat yang membara.

"Bung Tomo, tokoh kunci dalam pertempuran bersejarah tersebut, berhasil membakar semangat para pejuang di Surabaya. Semangat perjuangan para pahlawan untuk menjaga kemerdekaan dan kedaulatan bangsa sungguh patut kita teladani," tuturnya.

Sri Mulyani menilai, Hari Pahlawan merupakan momen penting bagi bangsa Indonesia untuk terus memelihara api perjuangan, tidak boleh padam untuk menjaga dan mempertahankan kemerdekaan dan martabat bangsa dan negara Indonesia.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, ancaman Indonesia yang nyata adalah upaya penjajah Belanda untuk menguasai kembali tanah tumpah darah Indonesia untuk dijajah kembali.

"Dengan memperingati Hari Pahlawan, kita dapat meneladani perjuangan para pahlawan yang telah bersedia untuk berkorban jiwa raga, harta benda untuk menjaga negara dari segala ancaman dari luar maupun dari dalam yang dapat melemahkan dan menghancurkan negara kita," tegasnya.