Sukses

Chandra Asri Bakal Terbitkan Surat Utang Rp 1 Triliun

Liputan6.com, Jakarta - PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), perusahaan bergerak di usaha petrokimia akan menerbitkan obligasi berkelanjutan I senilai Rp 1 triliun. Pada tahap I, perseroan akan menerbitkan obligasi sebanyak-banyaknya Rp 500 miliar.

Mengutip keterangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (13/11/2017), perseroan akan menawarkan obligasi dalam tiga seri antara lain seri A berjangka waktu tiga tahun, seri B berjangka waktu lima tahun dan seri C berjangka waktu tujuh tahun.

Obligasi ini ditawarkan dengan nilai 100 persen dari jumlah pokok obligasi. Bunga obligasi dibayarkan setiap tiga bulan sesuai dengan tanggal pembayaran bunga obligasi terhitung sejak tanggal emisi. Adapun obligasi tersebut sudah memperoleh peringkat AA- dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Perseroan akan menggunakan dana penerbitan obligasi untuk membayar sejumlah utang senilai US$ 94,98 juta yang diperoleh perseroan pada 2015. Pembayaran utang akan dilakukan pada Desember 2017.

PT Chandra Asri Petrochemical Tbk telah menunjuk sejumlah penjamin pelaksana emisi obligasi antara lain PT BCA Sekuritas, PT DBC Vickers Sekuritas Indonesia, dan PT Mandiri Sekuritas. Yang bertindak sebagai wali amanat antara lain PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Jadwal penawaran obligasi antara lain masa penawaran awal pada 13-24 November 2017, pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 5 Desember 2017. Kemudian masa penawaran umum pada 6-7 Desember 2017, penjatahan pada 8 Desember 2017, pembayaran pada 11 Desember 2017. Distribusi obligasi secara elektronik pada 12 Desember 2017 dan pencatatan efek pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 13 Desember 2017.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Penerbitan Obligasi Capai Rp 130 Triliun

Sebelumnya, penerbitan surat utang atau obligasi korporasi tahun ini diperkirakan lebih tinggi dibanding tahun lalu. Diperkirakan, penerbitan obligasi korporasi mencapai Rp 130 triliun.

Direktur Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Wahyu Trenggono mengatakan, derasnya penerbitan obligasi seiring dengan membaiknya kondisi ekonomi nasional. Itu akan memicu dana asing masuk ke Indonesia.

"Dari sisi emisi, bahwa yang namanya kondisi ekonomi Indonesia cukup bagus, dalam arti kita akan melihat adanya inflow dana asing yang cukup besar. Karena beberapa kondisi seperti kemarin kita mengalami upgrade rating beberapa lembaga rating, ada 2 rating internasional yang memberikan kita outlook positif," kata dia seperti ditulis, di Jakarta, Jumat 7 Juli 2017.

Adanya kondisi tersebut, lanjut dia, memicu perusahaan untuk menerbitkan obligasi. Dia mengatakan, kupon obligasi akan rendah seiring dengan penurunan suku bunga.

"Akan memberikan keuntungan emiten yang ingin mendapatkan dana melalui penerbitan obligasi korporasi, untuk bisa menekan suku bunga, kupon penerbitannya. Karena demand yang besar akan lebih efisien dalam menentukan suku bunga," jelas dia.

Wahyu menuturkan, jika penerbitan obligasi tahun sebelumnya mencapai kisaran Rp 110 triliun, maka tahun ini diperkirakan Rp 130 triliun. Artinya, pertumbuhannya mencapai 18,18 persen.

"Kita bisa berharap bahwa angka penerbitan obligasi korporasi dibanding tahun lalu akan lebih tinggi yang dicatat tahun lalu. Kalau tahun lalu angkanya Rp 110 triliun, kita mungkin bisa berharap Rp 130 triliun tercapai," ujar dia.

Menurutnya, penerbitan obligasi tak hanya untuk memenuhi pembiayaan kembali (refinancing) perusahaan. Namun, juga didorong oleh keinginan perusahaan untuk ekspansi.

"Biasanya refinancing. Kalau misalnya kondisi ekonomi sedang bagus seperti ini, biasanya mereka tidak cuma refinancing. Kita lihat saja tahun 2011-2012 kondisi mirip-mirip tahun ini, ekonomi sedang booming. Itu refinancing cuma 30 persen dari total penerbitan obligasi korporasi. Jadi kita bisa berharap tahun ini seperti itu," tukas dia.

Artikel Selanjutnya
PT PP Raih Kontrak Baru Rp 21,8 Triliun hingga Juli 2017
Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani Bayar Utang Subsidi Pupuk Rp 4 Triliun di 2017