Sukses

RI Jadi Negara Tujuan Investasi Unggulan, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta Di tengah kondisi ekonomi global yang yang masih belum stabil, investasi di negara berkembang sering dijadikan pilihan para investor. Indonesia menjadi salah satu negara yang diunggulkan untuk tempat berinvestasi, seperti diungkap oleh Bank Dunia.

Bank Dunia juga memperkirakan perekonomian Indonesia mampu meningkat 5,3 persen tahun depan. Direktur Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves, mengatakan ia tetap optimistis bahwa negara ini bisa melakukan yang lebih baik lagi. Itu alasannya Indonesia bisa menjadi negara yang paling diunggulkan dalam investasi.

"Meskipun banyak negara berharap dapat tumbuh 5 persen, Indonesia dapat bercita-cita mencapai tingkat pertumbuhan yang jauh lebih tinggi jika terus berlanjut di jalur reformasi untuk memfasilitasi investasi swasta dan meningkatkan human capital, dua bahan utama yang tidak hanya penting untuk pertumbuhan, tetapi juga untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang baik untuk orang banyak," ucap Chaves, seperti dilansir Bloomberg, Rabu 915/11/2017).

Meski demikian, ada beberapa hal yang tetap harus menjadi perhatian pemerintah agar Indonesia bisa menjadi tujuan investasi paling menjanjikan.

Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves mengatakan, salah satu yang perlu diperbaiki adalah peraturan yang mengharuskan perusahaan asing menggunakan bahan baku lokal. Peraturan yang lebih sederhana untuk asing dan kepemilikian yang lebih sedikit di beberapa sektor akan mampu menarik lebih banyak dana.

"Bisnis tidak menyukai peraturan yang tidak dapat diprediksi. Kami ingin merekomendasikan peraturan cerdas, yang efisien dan dapat diprediksi," tuturnya.

Lebih lanjut Chaves menjelaskan, daftar investasi negatif yang pernah diperkenalkan memberikan respons yang positif dari investor, karena mampu meningkatkan transparansi. "Namun serangkaian revisi yang dilakukan sejak 2010 membuat "kegunaannya telah rusak," ucap Chaves.

 

 

1 dari 2 halaman

selanjutnya

Bank Dunia juga menilai Indonesia masih membutuhkan US$ 500 miliar selama lima tahun ke depan untuk menutup kesenjangan infrastruktur. Chaves mengatakan, meski pendapatan negara meningkat, sektor swasta masih dibutuhkan untuk mendapat dana yang dibutuhkan dalam pembangunan infrastruktur.

Indonesia mampu melompat 19 peringkat ke peringkat 72 dalam indeks kemudahan bisnis. Jumlah investasi asing ke Indonesia juga meningkat 11 persen ke angka US$ 24 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun 2017. Namun menurut Bank Dunia, tantangan masih ada di depan mata.

"Tantangan ada, terutama yang berkaitan dengan prediktabilitas aturan," ucap Chaves.

Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengambil langkah untuk mendorong investasi dalam manufaktur dan layanan bernilai tambah yang bisa menghasilkan lebih banyak pekerjaan serta mendapatkan biaya ratusan miliar dolar yang dibutuhkan untuk infrastruktur.

Perekonomian Indonesia telah meningkat rata-rata lima persen, lebih rendah dari target Jokowi, yakni 7 persen, saat ia mulai menjabat tiga tahun lalu.

Presiden mengatakan, Indonesia terbuka pada investor lokal maupun asing. Jokowi juga berusaha meredakan kekhawatiran investor asing mengenai agenda nasionalis.

Artikel Selanjutnya
Jokowi Bertemu Wakil PM Singapura Bahas Ekonomi Digital
Artikel Selanjutnya
Investasi Jadi Mesin Penggerak Ekonomi RI di Semester II