Sukses

Harga Nikel Naik 28 Persen, Ini Strategi Antam Agar Kompetitif

Liputan6.com, Jakarta Sebagai bahan untuk kebutuhan industri strategis dan teknologi tinggi, nikel mempunyai potensi menghasilkan nilai tambah yang sangat besar. Apalagi harga nikel mencatatkan trend kenaikan harga yang positif selama tahun 2017.

Tercatat harga London Metal Exchange (LME) nikel dari awal tahun hingga awal November 2017, tumbuh sebesar 28% persen yang mencapai di kisaran US$12.700 per ton nikel.

Kenaikan harga ini linier dengan naiknya permintaan nikel yang diprediksi masih akan tumbuh sekitar 5 persen di tahun 2017. Lagi-lagi Tiongkok yang memproyeksikan peningkatan indeks manufakturnya dengan tingkat penyerapan sebesar 70 persen untuk industri baja nirkaratnya.

Selain diserap oleh industri stainless steel, kabar perkembangan industri mobil listrik yang akan menyerap nikel juga menunjukkan angka yang positif.

Menurut data Bloomberg, di Tiongkok penjualan mobil tenaga listrik hingga bulan Agustus 2017 mencapai 209 ribu unit atau meningkat sekitar 68% dibandingkan periode yang sama tahun 2016 yang tercatat 124 ribu unit.

Komoditas nikel diprediksi akan terus tumbuh pada tahun-tahun mendatang. Pelaku bisnis d iindustri ini bakal memperoleh manfaat maksimal jika bisa merespon pasar. Meskipun demikian Direktur Keuangan Antam Dimas Wikan Pramudhito menyatakan kenaikan ini masih harus disikapi dengan kritis.

“Tentu akan berdampak positif bagi pertumbuhan pendapatan perusahaannya, tapi harus disikapi dengan bijak” tutur Dimas.

“Volatilitas harga masih jadi salah satu faktor pengaruh dari pendapatan Antam jadi supaya optimal biaya tunai harus ditekan,” tambahnya.

Dimas mengatakan, agar perusahaannya lebih kompetitif biaya tunai ditekan serendah mungkin. Tercatat sampai dengan semester I 2017, biaya tunai produksi feronikel ANTM sebesar US$3,71/lb sedangkan harga jual rata-rata sebesar US$4,54/lb.

Menurut Dimas, Antam telah mengambil momentum pasar melalui penjualan ekspor produk feronikel sebesar 12.816 TNi (ton nikel dalam feronikel) dan bijih nikel kadar rendah sebesar 1,9 juta wmt (wet metric ton) sampai dengan September 2017.

Dimas menambahkan, pada Oktober 2017 Perusahaannya memperoleh tambahan kuota ekspor bijih nikel kadar rendah sebesar 1,2 juta wmt sehingga total kuota ekspor nikel ANTM akan menjadi 3,9 juta wmt.

ANTM juga tengah melaksanakan konstruksi pabrik feronikel baru di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan kapasitas 13.500 TNi per tahun yang direncanakan akan mulai berproduksi pada pertengahan tahun 2019.

Jika pabrik Halmahera Timur selesai, ANTM bakal memiliki kapasitas produksi feronikel hingga 40.000 TNi per tahun. Menurut data riset, dengan kapasitas pabrik nikel saat ini saja, Perusahaan ini sudah masuk dalam jajaran 20 besar produsen nikel dunia.

 

(Adv)

Artikel Selanjutnya
Harga Jual Emas Antam di Posisi Rp 618 Ribu per Gram
Artikel Selanjutnya
Harga Emas Naik di Tengah Kekhawatiran Soal Suku Bunga