Sukses

IHSG Berpeluang Naik, Awasi 6 Saham Pilihan Ini

Liputan6.com, Jakarta - Gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang kembali menguat pada perdagangan saham Kamis pekan ini.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya menuturkan, IHSG terlihat berada dalam rentang konsolidasi sehat dengan potensi kenaikan cukup besar.

Namun, bila terjadi momentum koreksi wajar masih dapat terus dimanfaatkan untuk akumulasi beli saham dengan tujuan investasi jangka panjang. Ini mengingat IHSG masih berada dalam jalur penguatan untuk jangka panjang.

Sementara itu, Analis PT Reliance Securities Lanjar Nafi menuturkan, IHSG akan bergerak bervariasi dengan pergerakan di kisaran 6.025-6.085 pada Kamis pekan ini.

"IHSG secara teknikal menguat pada level moving average lima harian dan 20 harian usai sebelumnya tertahan pada level support itu," kata dia.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu kemarin, IHSG naik 37,92 poin ke posisi 6.069,78. Sektor saham aneka industri dan pertambangan memimpin penguatan IHSG. Saham PT Astra International Tbk dan PT Bumi Resources Tbk menguat cukup optimistis pada perdagangan Rabu pekan ini. Investor asing melakukan aksi beli sekitar Rp 1,14 triliun.

Untuk pilihan saham, Lanjar memilih sejumlah saham yang dapat diperhatikan pelaku pasar. Saham-saham itu antara lain PT AKR Corpindo Tbk (AKRA), PT XL Axiata Tbk (EXCL), PT Summarecong Agung Tbk (ASMRA).

Sedangkan William memilih saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) untuk dicermati pelaku pasar.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

IHSG Cetak Rekor Tertinggi Baru

Sebelumnya laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau selama perdagangan saham Rabu pekan ini. Aksi beli investor asing mendorong penguatan IHSG.

Pada penutupan perdagangan saham, Rabu 22 November 2017, IHSG naik 37,92 poin atau 0,63 persen ke posisi 6.069,78. Indeks saham LQ45 naik 0,75 persen ke posisi 1.016,23. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau. Sebelumnya, IHSG mencetak rekor tertinggi di 6.060 pada 7 November 2017.

Ada sebanyak 189 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau, sedangkan 152 saham melemah dan 132 saham diam di tempat. IHSG sempat berada di level tertinggi 6.071,34 dan terendah 6.038,73.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 325.429 kali dengan volume perdagangan saham 10,4 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 7,5 triliun. Investor asing melakukan aksi beli Rp 1,1 triliun di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.512.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menguat kecuali sektor saham pertanian turun 0,05 persen dan sektor saham barang konsumsi susut 0,78 persen. Sektor saham aneka industri naik 3,27 persen, dan mencatat penguatan terbesar. Disusul sektor saham tambang naik 1,6 persen dan sektor saham keuangan menanjak 1,13 persen.

Saham-saham yang menguat antara lain saham FINN naik 20,14 persen ke posisi Rp 173, saham SMDR melonjak 10,55 persen ke posisi Rp 440 per saham, dan saham ENRG melonjak 9,47 persen ke posisi Rp 104 per saham.

Adapun saham-saham yang tertekan antara lain saham SIMA turun 5,52 persen ke posisi Rp 342 per saham, saham BTEK merosot 4,72 persen ke posisi Rp 121 per saham, dan saham AISA tergelincir 4,43 persen ke posisi Rp 755 per saham.

Saham-saham yang banyak dibeli investor asing, antara lain saham BBRI senilai Rp 563 miliar, saham BBNI sebesar Rp 343,61 miliar, dan saham BMRI senilai Rp 73,37 miliar. Selain itu, saham UNTR sebesar Rp 54,38 miliar, saham BBCA sebesar Rp 35,37 miliar.

Bursa Asia pun kompak menghijau. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,62 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi mendaki 0,39 persen, indeks saham Jepang Nikkei menanjak 0,48 persen, indeks saham Shanghai naik 0,59 persen. Selain itu, indeks saham Singapura menguat 0,19 persen dan indeks saham Taiwan mendaki 0,40 persen.

Analis PT Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menuturkan, penguatan IHSG didorong aliran dana investor asing yang masuk ke pasar saham Indonesia. Selain itu, pergerakan harga komoditas juga masih mewarnai laju IHSG. "Capital inflow salah satunya," kata William saat dihubungi Liputan6.com.

Artikel Selanjutnya
IHSG Berpotensi Menguat, Awasi Saham Pilihan Ini
Artikel Selanjutnya
IHSG Berpeluang Menghijau, Cermati Saham Pilihan Ini