Sukses

Sektor Jasa Telekomunikasi dan Energi Bikin Wall Street Variasi

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street sedikit berubah yang didorong sektor saham jasa telekomunikasi dan energi. Penguatan sektor energi di wall street dipicu harga minyak.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones turun 52,18 poin atau 0,22 persen ke posisi 23.538,65. Indeks saham S&P 500 tergelincir 0,51 poin atau 0,02 persen ke posisi 2.598,52. Indeks saham Nasdaq bertambah 4,99 poin atau 0,07 persen ke posisi 6.867,47.

Sektor saham jasa telekomunikasi menggerakkan wall street. Ini didorong dari saham Verizon naik 2,2 persen. Saham AT&T mendaki 1,6 persen. Penguatan tersebut didorong harapan perseroan akan mendapatkan keuntungan dari kebijakan pemerintah Amerika Serikat.

Sementara itu, saham Hewlett Packard Enterprise turun 7,1 persen menjadi US$ 13,11 usai Chief Executive Hewlett Packard Meg Whitman mengumumkan pengunduran diri.

Sektor saham energi juga mempengaruhi wall stree. Indeks sektor saham energi S&P 500 naik 0,6 persen. Ini didorong harga minyak naik dua persen.

Sentimen lainnya berasal dari rilis hasil pertemuan rapat bank sentral Amerika Serikat atau the Federal Reserve. Dalam risalah itu menyebutkan kalau pejabat the Federal Reserve memperkirakan suku bunga naik dalam jangka pendek. Investor saham pun tidak terkejut dengan risalah itu.

"Tidak banyak sinyal datang melalui risalah rapat the Federal Reserve," kata John Velis, Wakil Presiden Direktur State Street Global, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (23/11/2017).

Saham lainnya menggerakkan pasar yaitu saham Qualcomm naik 1,9 persen. Saham Deere and Co menguat 4,2 persen. Menjelang perayaan Thanksgiving, volume perdagangan saham cenderung tipis di wall street.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Wall Street Sempat Cetak Rekor

Sebelumnya Bursa saham Amerika Serikat (AS) melonjak penutupan pada perdagangan Selasa (Rabu pagi waktu Jakarta). Kenaikan saham ini mendorong ketiga indeks utama mencetak rekor tertinggi yang dipimpin oleh saham-saham di sektor teknologi dan kesehatan.

Mengutip Reuters, Rabu 22 November 2017, Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 160,5 poin atau 0,69 persen menjadi 23.590,83. Untuk S&P 500 naik 16,89 poin atau 0,65 persen menjadi 2.599,03. Sedangkan Nasdaq Composite menambahkan 71,76 poin atau 1,06 persen menjadi 6.862,48.

Indeks teknologi dalam S&P 500 naik 1,2 persen dibantu oleh kenaikan saham Apple sebesar 1,9 persen. Indeks saham teknologi telah menguat 38,6 persen sepanjang tahun ini, tertinggi jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Sedangkan indeks S&P 500 naik 16,1 persen sepanjang tahun ini.

"Kami melihat bahwa investor dalam masa dimana mereka lebih memilih untuk melakukan aksi beli jika dibandingkan dengan menjualnya," jelas analis BB&T Wealth Management, Birmingham, Alabama, Bucky Hellwig.

Ia melanjutkan, ada dana besar yang masuk sepanjang tahun ini meskipun saham merupakan instrumen yang cukup berisiko. Saham memiliki volatilitas yang cukup besar. "Namun orang sepertinya nyaman untuk masuk ke saham," tambah dia.

Indeks S&P 500 mencapai rekor penutupan tertinggi untuk pertama kalinya dalam dua minggu ini. Indeks tersebutu membukukan kerugian yang cukup besar pada tahun lalu karena investor khawatir aka rencana reformasi perpajakan yang tak kunjung berjalan.

Artikel Selanjutnya
Mau Magang? Ini 5 Industri RI yang Terbanyak Buka Lowongan
Artikel Selanjutnya
Jurus Astragraphia Dorong Industri Printing di Indonesia