Sukses

Unilever Indonesia Bagi Dividen Interim Rp 410 per Saham

Liputan6.com, Jakarta - PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) akan membagikan dividen interim 2017 sebesar Rp 410 per saham. Pembayaran dividen interim dilakukan pada 20 Desember 2017.

Pembagian dividen interim itu disetujui dalam rapat direksi perseroan pada 22 November 2017. Total pembagian dividen interim 2017 sebesar Rp 3,12 triliun yang berasal dari laba bersih perseroan untuk periode yang berakhir 30 Juni 2017.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (24/11/2017), pembagian dividen interim tersebut diberikan kepada pemegang 7,63 miliar saham yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada 5 Desember 2017.

Adapun jadwal pembagian dividen interim antara lain cum dividen untuk perdagangan di pasar reguler dan negosiasi pada 29 November 2017, ex dividen untuk perdagangan di pasar reguler dan negosiasi pada 30 November 2017, cum dividen untuk perdagangan di pasar tunai pada 5 Desember 2017.

Selain itu, ex dividen untuk perdagangan di pasar tunai pada 6 Desember 2017, batas akhir pencantuman dalam daftar pemegang saham pada 5 Desember 2017, dan pelaksanaan pembayaran dividen interim pada 20 Desember 2017.

Sebelumnya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mencatatkan kinerja positif hingga September 2017. Ini ditunjukkan dari pertumbuhan laba perseroan.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu 1 November 2017, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan laba naik 10,07 persen menjadi Rp 5,22 triliun hingga akhir September 2017 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 4,75 triliun.

Kenaikan laba itu didukung pertumbuhan penjualan meski tipis. PT Unilever Indonesia Tbk membukukan penjualan naik 3,69 persen dari Rp 30,10 triliun hingga akhir September 2016 menjadi Rp 31,21 triliun hingga akhir September 2017.

Laba bruto perseroan naik 4,9 persen menjadi Rp 16,05 triliun hingga akhir kuartal III 2017. Dengan melihat kondisi itu, laba bersih per saham naik dari Rp 623 hingga akhir September 2016 menjadi Rp 685 hingga akhir September 2017.

Total liabilitas perseroan turun menjadi Rp 12,39 triliun pada 30 September 2017 dari posisi 31 Desember 2016 sebesar Rp 12,04 triliun. Sementara itu, ekuitas perseroan sebesar Rp 6,42 triliun pada 30 September 2017. Perseroan kantongi kas Rp 419,59 miliar pada 30 September 2017.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Cikarang Listrindo Bagi Dividen Interim 2017

Selain PT Unilever Indonesia Tbk, PT Cikarang Listrindo Tbk juga membagikan dividen interim 2017. Hal itu diputuskan dalam rapat bersama Dewan Komisaris dan Direksi perseroan pada 22 November 2017.

Perseroan memutuskan dan menyetujui pembagian dividen interim 2017 sebesar US$ 15 juta atau setara US$ 0,0009324.

Jadwal pembagian dividen interim itu antara lain cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 29 November 2017, ex dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 30 November 2017, cum dividen di pasar tunai pada 5 Desember 2017.

Selanjutnya ex dividen di pasar tunai pada 6 Desember 2017, daftar pemegang saham yang berhak dividen pada 5 Desember 2017, dan pembayaran dividen interim pada 13 Desember 2017.

Hingga akhir September 2017, perseroan mencatatkan laba periode berjalan 27,58 persen menjadi US$ 79,23 juta dari periode sama tahun sebelumnya US$ 109,41 juta.

Di tengah penurunan laba, perseroan catatkan penjualan naik 3,09 persen menjadi US$ 420,79 juta pada akhir September 2017 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 408,16 juta. Laba kotor perseroan naik 6,4 persen menjadi US$ 145,52 juta.

Total liabilitas perseroan naik dari US$ 666,70 juta pada Desember 2017 menjadi US$ 670,79 juta pada 30 September 2017. Ekuitas perseroan tercatat US$ 626,41 juta. Perseroan kantongi kas sebesar US$ 203,81 juta.

Saham POWR naik 1,77 persen menjadi Rp 1.150 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 111 kali dengan nilai transaksi Rp 505 juta.

Artikel Selanjutnya
Naik 164 Persen, Otoritas Bursa Suspensi Saham Mitra Komunikasi
Artikel Selanjutnya
Investor Enggan Lepas Kepemilikan, Saham Ayana Land Stagnan