Sukses

Bursa Asia Masih Terseret Sentimen dari Wall Street

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak campuran pada pembukaan perdagangan Senin pekan ini. Pelaku pasar masih mencermati sentimen dari bursa saham Amerika Serikat (AS) pada Jumat lalu yang tertekan karena masalah kolusi antara Presiden AS Donald Trump dan Rusia.

Mengutip CNBC, Senin (4/12/2017), indeks ASX 200 Australia diperdagangkan mendatar pada jam pertama. Sektor keuangan mengalami tekanan 0,6 persen karena kerugian dari saham-saham ban-bank besar.

Saham ANZ turun 0,73 persen, Commonwealth Bank turun 0,57 persen, Westpac turun 1,17 persen dan National Australia Bank turun 0,51 persen.

Sedangkan di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,13 persen di awal perdagangan. Sedangkan Topix diperdagangkan mendatar. Di Korea Selatan, Indeks Kospi naik 0,41 persen.

Di AS, ABC News melaporkan pada Jumat kemarin bahwa Michael Flynn, penasihat keamanan nasional Gedung Putih, akan bersaksi bahwa dia diarahkan untuk melakukan kontak dengan orang-orang Rusia selama kampanye kepresidenan pada 2016.

Flynn mengaku bersalah berbohong kepada FBI mengenai kontak pasca pemilihannya dengan Duta Besar Rusia untuk AS. Laporan tersebut mendorong pelemahan Wall Street secara besar-besaran.

Namun ABC kemudian mengoreksi berita tersebut dan mengatakan bahwa sumbernya telah mengklarifikasi hal tersebut dan menjelaskan bahwa pertemuan antara Flynn dan Duta Besar Rusia untuk AS untuk memerangi kelompok ekstremis Negara Islam.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Penutupan Wall Street Jumat lalu

Wall Street jatuh pada penutupan perdagangan Jumat atau Sabtu pagi waktu Jakarta. Pendorong pelemahan bursa saham di Amerika Serikat (AS) ini karena adanya penyelidikan terhadap dugaan keterlibatan Rusia dalam pemilihan Presiden AS.

Namun tekanan di Wall Street mampu diredam sedikit dengan adanya kemajuan pembicaraan Undang-Undang Pajak di Kongres AS.

Mengutip Reuters, Sabtu (2/12/2017), Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 40,76 poin atau 0,17 persen menjadi 24.231,59. Untuk S&P 500 kehilangan 5,36 poin atau 0,20 persen menjadi 2.642,22. Sedangkan Nasdaq Composite turun 26,39 poin atau 0,38 persen menjadi 6.847,59.

Indeks acuan utama di Wall Street langsung tertekan setelaj ABC News melaporkan bahwa mantan Penasihat Keamanan Nasional Michael Flynn siap bersaksi sebelum menjabat sebagai presiden, Donald Trump telah melakukan kontak dengan beberapa orang Rusia.

Indeks acuan S&P 500 langsung turun 1,6 persen usai keluarnya laporan tersebut. Flynn mengaku bersalah pada Jumat pagi karena berbohong kepad FBI mengenai kontak dengan duta besar Rusia tersebut.

Namun, pelemahan harga saham tersrbut mampu ditahan di akhir perdagangan setelah Partai Republik AS megatakan bahwa mereka memiliki cukup dukungan untuk melewati rencana perombakan pajak AS.

Adanya berita mengenai tanda-tanda kemajuan mengenai reformasi perpajakan AS sangat diganti oleh investor karena hal tersebut merupakan janji kampanye Presiden Donald Trump yang dipastikan akan memberikan angin segar kepada pasar modal.

"Kasus Michael Flynn memberikan tekanan yang cukup dalam ke Wall Street namun adanya kemajuan di reformasi pajak memberikan angin segar," jelas analis TD Ameritrade di Chicago, J.J. Kinahan.

Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Tertekan Ikuti Wall Street
Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Menghijau, Investor Tak Lagi Khawatir soal Rudal Korut