Sukses

Inflasi November 0,20 Persen, IHSG Naik 56,57 Poin

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau selama sesi pertama perdagangan saham pada awal pekan ini. Penguatan IHSG di tengah rilis data inflasi pada November 2017.

Berdasarkan data RTI pada penutupan sesi pertama perdagangan saham, Senin (4/11/2017), IHSG naik 56,57 poin atau 0,95 persen ke posisi 6.008,71. Indeks saham LQ45 menguat 1,78 persen ke posisi 1.009,81. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.022,59 dan terendah 5.994,34. Ada sebanyak 123 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. 177 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG. 117 saham lainnya diam di tempat.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 254.783 klai dengan volume perdagangan 10,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,6 triliun. Investor asing melakukan aksi jual Rp 252,59 miliar di pasar reguler. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.519.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menghijau. Sektor saham aneka industri naik 2,84 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham barang konsumsi mendaki 2,42 persen dan sektor saham manufaktur menanjak 1,86 persen.

Sektor saham perdagangan melemah 0,98 persen, sektor saham industri dasar susut 0,63 persen, dan sektor saham konstruksi melemah 0,52 persen.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham TRAM naik 8,28 persen ke posisi Rp 157 per saham, saham HMSP menguat 5,12 persen ke posisi Rp 4.310 per saham, dan saham ADRO melonjak 4,41 persen ke posisi Rp 1.775 per saham.

Saham-saham yang membukukan top losers antara lain saham AISA turun 10,16 persen ke posisi Rp 575 per saham, saham LPKR tergelincir 6,96 persen ke posisi Rp 535 per saham, dan saham SIMA merosot 5,96 persen ke posisi Rp 284 per saham.

Bursa saham Asia bervariasi. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,62 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi menguat 0,64 persen, indeks saham Shanghai menanjak 0,13 persen, dan indeks saham Taiwan mendaki 0,43 persen. Sedangkan indeks saham Jepang Nikkei melemah 0,42 persen dan indeks saham Singapura tergelincir 0,29 persen.

Penguatan IHSG ini di tengah rilis data inflasi November 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Oktober 2017 sebesar 0,20 persen. Adapun inflasi tahun kalender sebesar 2,87 persen, dan inflasi tahun ke tahun mencapai 3,30 persen.

"Inflasi November 2017 lebih rendah dari inflasi November untuk tiga tahun sebelumnya atau sejak November 2014," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin 4 Desember 2017.

Ia pun merincikan, pada 2014 inflasi November di angka 1,5 persen. Untuk 2015, angka inflasi November di 0,21 persen. Sedangkan untuk 2016, inflasi bulan kesebelas tercatat 0,47 persen.

Suhariyanto melanjutkan, dari 82 kota, sebanyak 68 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi.

Untuk inflasi tertinggi, terjadi di Singaraja Bali yaitu 1,80 persen. Sedangkan untuk inflasi terendah adalah kota Bekasi dan Palopo masing-masing 0,02 persen.

Untuk angka deflasi tertinggi di Kota Tual dengan angka 2,74 persen. Untuk deflasi terendah, terjadi di Manokwari sebesar ‎0,02 persen.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

IHSG Naik di Awal Sesi Perdagangan

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona hijau pada perdagangan saham Senin pekan ini. Pekan ini, IHSG diperkirakan bergerak positif.

Pada pembukaan perdagangan saham, Senin 4 Desember 2017, IHSG naik ke 57,78 poin atau 0,97 persen ke posisi 6.010,59. Indeks saham LQ45 juga naik 1,46 persen. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menguat kecuali sektor perdagangan, perkebunan dan konstruksi.

Sektor saham aneka industri naik 2,36 persen dan menjadi penguatan terbesar, sektor saham manufaktur naik 1,40 persen dan sektor saham barang konsumsi naik 1,57 persen.

Investor asing pun melakukan aksi beli Rp 12 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.519.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham CTTH naik 6,25 persen ke posisi Rp 119, saham POLY menanjak 5,88 persen ke posisi Rp 90 per saham, dan saham MEGA mendaki 5,26 persen ke posisi Rp 3.000 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham AISA merosot 9,38 persen ke posisi Rp 757, saham PNBN merosot 8,56 persen ke posisi Rp 1.215, dan saham INDX turun 5,26 persen ke posisi Rp 108 per saham.

Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menilai, tak ada alasan fundamental yang membuat IHSG jatuh pekan lalu. Sehingga, IHSG punya peluang berbalik arah.

"Aksi jual masif yang terjadi di akhir pekan membawa IHSG ke zona merah dan menjauhi level psikologis 6.000. Padahal tidak adanya masalah fundamental dari pelemahan tersebut. Diharapkan, aksi beli kembali terjadi dengan memanfaatkan pelemahan tersebut sehingga IHSG dapat menemukan peluang rebound kembali," jelas dia di Jakarta, Senin (4/12/2017).

Artikel Selanjutnya
Aksi Jual Bikin IHSG Melemah ke 5.813,74
Artikel Selanjutnya
Deflasi Agustus 0,07 Persen, IHSG Susut 34,46 Poin