Sukses

IHSG Gagal Bertahan di Level 6.000

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau pada perdagangan saham awal pekan ini. Akan tetapi, IHSG belum mampu pertahankan level 6.000.

Jelang penutupan perdagangan saham, IHSG malah cenderung alami penguatan terbatas. Pada penutupan perdagangan saham, Senin (4/12/2017), IHSG naik 46,05 poin atau 0,77 persen ke posisi 5.998,19. Indeks saham LQ45 naik 1,59 persen ke posisi 1.007,89. Sebagian besar indeks saham acuan menghijau.

Ada sebanyak 121 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. 223 saham melemah sehingga menekan IHSG. Sedangkan 116 saham lainnya diam di tempat. Pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.031,92 dan terendah 5.994,34.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 428.673 kali dengan volume perdagangan 16,4 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 10,6 triliun. Transaksi saham besar itu adanya transaksi saham di pasar negosiasi mencapai Rp 3,1 triliun untuk saham PT SMR Utama Tbk (SMRU).

Investor asing melakukan aksi jual Rp 885,73 miliar di pasar reguler. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.515.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menghijau. Sektor saham barang konsumsi naik 2,38 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham manufaktur mendaki 1,52 persen dan sektor saham aneka industri menanjak 1,22 persen. Sektor saham konstruksi susut 1,03 persen dan catatkan penurunan terbesar.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham TRAM naik 6,9 persen ke posisi Rp 155, saham HMSP melonjak 5,37 persen ke posisi Rp 4.320 per saham, dan saham ELSA mendaki 4,79 persen ke posisi Rp 394.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham SMDR turun 16 persen ke posisi Rp 378 per saham, saham AISA merosot 15,63 persen ke posisi Rp 540, dan saham BKSL tergelincir 9,62 persen ke posisi Rp 141 per saham.

Bursa Asia pun bervariasi. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,22 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi menguat 1,06 persen, dan indeks saham Taiwan mendaki 0,48 persen. Indeks saham Jepang Nikkei tergelincir 0,49 persen, indeks saham Shanghai susut 0,24 persen, dan indeks saham Singapura turun 0,23 persen.

Penguatan IHSG terjadi di tengah rilis data ekononi inflasi November 2017. Tercatat inflasi mencapai 0,20 persen."Momentum teknikal rebound usai tekanan yang terjadi akhir pekan lalu. Ditambah rilis data inflasi," ujar Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Suryawijaya saat dihubungi Liputan6.com.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

IHSG Naik pada Sesi Pertama

Sebelumnya laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau selama sesi pertama perdagangan saham pada awal pekan ini. Penguatan IHSG di tengah rilis data inflasi pada November 2017.

Berdasarkan data RTI pada penutupan sesi pertama perdagangan saham, Senin (4/11/2017), IHSG naik 56,57 poin atau 0,95 persen ke posisi 6.008,71. Indeks saham LQ45 menguat 1,78 persen ke posisi 1.009,81. Sebagian besar indeks saham acuan menguat.

Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.022,59 dan terendah 5.994,34. Ada sebanyak 123 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. 177 saham melemah sehingga menahan penguatan IHSG. 117 saham lainnya diam di tempat.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai. Total frekuensi perdagangan saham 254.783 klai dengan volume perdagangan 10,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,6 triliun. Investor asing melakukan aksi jual Rp 252,59 miliar di pasar reguler. Posisi dolar Amerika Serikat berada di kisaran Rp 13.519.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menghijau. Sektor saham aneka industri naik 2,84 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham barang konsumsi mendaki 2,42 persen dan sektor saham manufaktur menanjak 1,86 persen.

Sektor saham perdagangan melemah 0,98 persen, sektor saham industri dasar susut 0,63 persen, dan sektor saham konstruksi melemah 0,52 persen.

Saham-saham yang catatkan top gainers antara lain saham TRAM naik 8,28 persen ke posisi Rp 157 per saham, saham HMSP menguat 5,12 persen ke posisi Rp 4.310 per saham, dan saham ADRO melonjak 4,41 persen ke posisi Rp 1.775 per saham.

Saham-saham yang membukukan top losers antara lain saham AISA turun 10,16 persen ke posisi Rp 575 per saham, saham LPKR tergelincir 6,96 persen ke posisi Rp 535 per saham, dan saham SIMA merosot 5,96 persen ke posisi Rp 284 per saham.

Bursa saham Asia bervariasi. Indeks saham Hong Kong Hang Seng naik 0,62 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi menguat 0,64 persen, indeks saham Shanghai menanjak 0,13 persen, dan indeks saham Taiwan mendaki 0,43 persen. Sedangkan indeks saham Jepang Nikkei melemah 0,42 persen dan indeks saham Singapura tergelincir 0,29 persen.

Penguatan IHSG ini di tengah rilis data inflasi November 2017. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Oktober 2017 sebesar 0,20 persen. Adapun inflasi tahun kalender sebesar 2,87 persen, dan inflasi tahun ke tahun mencapai 3,30 persen.

"Inflasi November 2017 lebih rendah dari inflasi November untuk tiga tahun sebelumnya atau sejak November 2014," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Senin 4 Desember 2017.

Ia pun merincikan, pada 2014 inflasi November di angka 1,5 persen. Untuk 2015, angka inflasi November di 0,21 persen. Sedangkan untuk 2016, inflasi bulan kesebelas tercatat 0,47 persen.

Suhariyanto melanjutkan, dari 82 kota, sebanyak 68 kota mengalami inflasi dan 14 kota mengalami deflasi.

Untuk inflasi tertinggi, terjadi di Singaraja Bali yaitu 1,80 persen. Sedangkan untuk inflasi terendah adalah kota Bekasi dan Palopo masing-masing 0,02 persen.

Untuk angka deflasi tertinggi di Kota Tual dengan angka 2,74 persen. Untuk deflasi terendah, terjadi di Manokwari sebesar ‎0,02 persen.

Artikel Selanjutnya
Tekanan Jual Masih Besar, IHSG Bakal Bervariasi
Artikel Selanjutnya
IHSG Berpotensi Naik, Cermati Saham Pilihan Ini