Sukses

Pembentukan Holding BUMN Dipastikan Tanpa Ada PHK

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memastikan pembentukan induk usaha (holding) perusahaan pelat merah tidak akan mengurangi jumlah pegawai atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Perusahaan justru akan meningkatkan kemampuan dan keahlian sumber daya manusia sehingga dapat bekerja di lingkungan holding.

Staf Khusus Menteri BUMN, Wianda Pusponegoro mencontohkan, pendirian holding BUMN tambang PT Inalum (Persero) yang membawahi PT Antam Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk, dan PT Freeport Indonesia mendapat dukungan dari seluruh pekerja di masing-masing perusahaan.

"Semua pekerja mendukung kok pembentukan holding tambang misalnya karena mereka paham. Kami tidak ngomong rasionalisasi, karena di holding BUMN semen dan perkebunan pun tidak ada rasionalisasi," jelas dia di acara Forum Merdeka Barat di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Selasa (5/12/2017).

Wianda justru memastikan, perusahaan akan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan keahlian para pekerja. Mereka juga dapat saling berbagi pengalaman di masing-masing perusahaan, sehingga mampu menjadi sumber daya manusia yang handal.

"Pekerja holding sangat senang bisa melakukan peningkatan kapasitas ilmu, pengetahuan, kemampuan sesama anggota holding. Misalnya pekerja di Inalum, bisa ditugaskan ke Antam atau Timah, jadi mereka bisa berkembang menjadi lebih handal," papar dia.

Lebih jauh Wianda mengatakan, holding BUMN tambang juga akan menggarap berbagai proyek yang dapat menciptakan kesempatan kerja, terutama di daerah.

Dia mencontohkan sinergi hilirisasi pada holding BUMN tambang, adalah program pengembangan sumber energi batubara, antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Inalum, PLTU Mempawah, PLTU atau PLTG Haltim.

Program peningkatan nilai tambah mineral, yakni proyek pembangunan refinery alumina antara Inalum dan Antam, smelter tembaga antara Inalum dan Freeport Indonesia, smelter logam mulia antara Inalum, Antam, dan Freeport Indonesia, serta smelter Feni Halmahera Timur.

Wianda menyebut, proyek pembangunan pabrik calcined petroleum coke (CPC) oleh Inalum ditaksir menelan investasi US$ 43 juta, ekspansi Inalum di Kuala Tanjung dengan nilai investasi US$ 781 juta, dan lainnya.

"Kita ingin buat proyek yang merekrut tenaga kerja lebih banyak, termasuk di daerah. Beberapa proyek ada yang groundbreaking di 2018 dengan masa pembangunan 2 tahun," pungkas mantan Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) itu.

Artikel Selanjutnya
Menteri Rini: Holding Tambang Skema Terbaik Akuisisi Freeport
Artikel Selanjutnya
Target Selesai Minggu Ini, Begini Skema Pembelian Saham Freeport