Sukses

Usai 1998 dan 2008, Siklus Krisis 10 Tahunan Bakal Datang Lagi?

Liputan6.com, Jakarta - Siklus krisis ekonomi 10 tahunan sering menjadi topik perbincangan hangat, terutama mengingat trauma yang masih membekas akibat krisis ekonomi Asia di 1998 dan krisis ekonomi global pada 2008.

Tahun yang berakhir dengan angka 8 seakan menghantui terutama bagi kita yang ada di Indonesia. Banyak analisa ekonomi menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia maupun dunia pada 2018 sebenarnya cukup berbeda dengan tahun 1998 dan 2008.

Namun, seringkali analisa berdasarkan fakta dan data tersebut masih belum berhasil menenangkan kecemasan para investor. Maka, mungkin jalan paling mudah untuk mematahkan pandangan siklus 10 tahunan adalah dengan menunjukkan bahwa sebenarnya siklus tersebut mungkin kurang tepat.

Menilik pertumbuhan ekonomi riil Indonesia sejak 1961 hingga 2016, resesi ekonomi di tahun yang berakhir dengan angka 8 hanya terjadi pada 1998 dan 2008. Bahkan pada saat krisis ekonomi global pada 2008-2009, sebenarnya pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlalu terdampak.

Pada 1968, 1978 dan 1988, di mana ketiga tahun tersebut berakhir dengan angka 8, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung kuat. Yakni ekonomi Indonesia tumbuh 10,9 persen pada 1968, kemudian 6,8 persen di 1978, dan 5,8 persen di 1988.

Sebelum 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif rendah tidak pernah terjadi di tahun yang berakhir dengan angka 8 (1963, 1965, 1967, 1982 dan 1985).

Sejak 1961 hingga saat ini, hanya terdapat 2 tahun di mana Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi negatif, yaitu tahun 1963 dan 1998.

(Lihat tabel di bawah ini)

Hal serupa juga ditemukan saat menilik pertumbuhan ekonomi dunia. Pada 2008 dan 2009, ekonomi dunia mengalami pertumbuhan ekonomi yang lemah akibat krisis global. Pada 1998, saat terjadi krisis ekonomi Asia, pertumbuhan ekonomi global mengalami sedikit penurunan di angka 2,5 persen.

Kemudian pada tiga tahun yang berakhir dengan angka 8, yakni tahun 1968, 1978 dan 1988 mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang relatif mapan masing-masing 6,2 persen, 4 persen, dan 4,7 persen.

Selain tahun 1998 dan 2008-2009, pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia terjadi pada 1975 yang sebesar 0,8 persen, kemudian 1991 (1,4 persen), 1998 (2,5 persen) dan 2001 (1,9 persen), di mana tahun-tahun tersebut tidak ada satupun yang berakhir dengan angka 8. Bahkan sejak 1961 hingga saat ini, pertumbuhan ekonomi dunia yang negatif hanya terjadi satu kali, yaitu pada 2009.

(Lihat tabel di bawah)

Melihat data pertumbuhan ekonomi baik Indonesia maupun dunia, terlihat bahwa sebenarnya pandangan siklus 10 tahunan mungkin kurang tepat.

Memang harus diakui bahwa ekonomi dunia mengalami siklus. Namun tidak terlihat sebuah kepastian bahwa siklus tersebut terulang setiap 10 tahun dan tentunya tahun yang berakhir dengan angka 8 tidak terlihat sekeramat yang banyak dibahas.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Kinerja pasar modal

Mungkin masih banyak yang berpikir bahwa koreksi tersebut tidak serta merta harus terjadi di ekonomi namun dapat terjadi hanya di pasar modal. Namun, pandangan inipun kiranya kurang tepat. Sebab koreksi yang terjadi di pasar modal, yakni pada 2001 untuk saham-saham perusahaan teknologi di Amerika Serikat, kemudian pada 2004 di Indonesia pada saat terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak secara masif.

Bahkan belakangan ini, yakni pada 2013 dan 2015, koreksi di pasar modal terjadi akibat langkah Bank Sentral AS mengurangi stimulus moneter. Dari catatan itu semua tahun tidak berakhir dengan angka 8.

Meski demikian, kita juga tidak dapat memastikan bahwa tahun 2018 tidak akan terjadi guncangan sama sekali. Data yang disajikan tersebut hanya menunjukkan bahwa tidak dapat dipastikan bila tahun yang berakhir dengan angka 8 adalah tahun yang buruk.

Untuk tahun 2018 sendiri, pandangan pasar modal maupun ekonomi hendaknya disajikan sesuai dengan kondisi fundamental dari ekonomi dunia maupun Indonesia.

Memang, masih terdapat kemungkinan terjadinya faktor-faktor yang tidak diekspektasikan sebelumnya seperti risiko geopolitik dan bencana alam, serta faktor-faktor lainnya.

Tetapi, semua itu berada di luar kapasitas analisa ekonomi dan mungkin dibutuhkan kemampuan lain dan yang lebih luas untuk dapat menerawangi masa depan, sebuah kemampuan yang tidak banyak dimiliki manusia awam, seorang ekonom maupun pengamat pasar modal sekalipun.

 Teddy Oetomo, PhD

Head of Intermediary Business

PT Schroder Investment Management Indonesia

Artikel Selanjutnya
BI Ramal Ekonomi Dunia Membaik di 2018
Artikel Selanjutnya
Lucifer Menerjang, Porsi Turun Minum MU Vs Madrid Bakal Bertambah