Sukses

Rhenald Kasali: Orang Kaya Saat Ini Sedang Menderita

Liputan6.com, Jakarta Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali menilai fenomena disruption yang terjadi akibat perubahan model bisnis ke teknologi digital telah menumbangkan sejumlah perusahaan raksasa. Mereka yang kolaps masih mempertahankan cara jadul atau konvensional sehingga harus tergilas arus digitalisasi.

Rhenald mengatakan, Clayton Christensen telah meramalkan adanya perubahan model bisnis baru ini pada 1997. Bahkan, Christensen sudah mengimbau agar perusahaan berhati-hati bahwa model bisnis konvensional akan hancur.

"Pada 2007 diramalkan, 2011 kejadian. Satu per satu ritel di Amerika Serikat (AS) kolaps karena muncul platform baru (online) yang tidak dipahami banyak orang," tegas dia saat acara Diskusi Buku Disruption di Gramedia Matraman, Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Presiden Komisaris PT Angkasa Pura II itu menegaskan, gugurnya perusahaan-perusahaan besar, seperti Kodak, Nokia, dan sejumlah ritel raksasa di dalam dan luar negeri bukan karena daya beli, melainkan karena era disruption.

"Ini disruption, bukan daya beli wong jalanan macet kok, yang umrah banyak, jumlah penumpang pesawat naik 15-25 persen, dan fenomena lainnya. Kalau omzet Indomaret dan Alfamart turun, ya wajarlah di satu jalan raya ada 12 gerai, ya pasti turun," jelas Rhenald.

Dia lebih jauh menuturkan, perusahaan yang awalnya memberi layanan jasa dengan tarif cuma-cuma, seperti Google, tumbuh menjadi perusahaan besar.

Namun kebalikannya, perusahaan atau pengusaha yang menjual tas mewah mengalami kesulitan karena biaya operasional untuk sewa lokasi dan menggaji desainer sangat mahal.

"Orang kaya sekarang sedang menderita. Mereka punya toko di Glodok, Blok M dengan sewa Rp 1 miliar kini penjualannya drop karena pada beralih ke online. Pemilik mal banyak yang susah, karena banyak yang tutup," Rhenald menerangkan.

Sementara kelompok masyarakat kelas bawah, tambah dia, saat ini sedang doyan konsumsi. Menurut Rhenald, pemerintah menggelontorkan bantuan sosial dalam berbagai bentuk untuk masyarakat miskin sehingga mendorong konsumsi masyarakat golongan tersebut.

"Belum lagi dana desa dialokasikan Rp 60 triliun, di mana ada desa yang dapat sampai Rp 1 miliar. Desa Ponggok misalnya, dengan dana Rp 300 juta untuk pengembangan pariwisata, penghasilannya kini mencapai Rp 15 miliar, ekonomi masyarakat sekitar terdampak menjadi lebih sejahtera," tuturnya.

Artikel Selanjutnya
Idap Demensia Langka, Pelatih Ski Ini Butuh Perawatan 24 Jam
Artikel Selanjutnya
Alice Norin dan Suami Kompak Panik karena Ini