Sukses

Menakar Efek Kondisi Ekonomi Global ke Pasar Keuangan

Liputan6.com, Jakarta - PT Schroder Investment Management Indonesia merilis laporan kondisi ekonomi global. Laporan itu menyebutkan ada sejumlah risiko politik masih menghangat yang dapat bayangi pasar keuangan.

Mengutip keterangan Schroders, Kamis (7/12/2017), kondisi di sejumlah negara di Eropa memberikan dampak risiko politik ke pasar keuangan. Dari Spanyol, Catalonia mendeklarasikan kemerdekaan. Namun, pemerintah Madrid mengambil alih pemerintahan secara langsung.

Padahal, kehilangan Catalonia juga dapat membuat Spanyol mengalami masalah. Ini lantaran Catalonia memiliki wilayah dengan bobot ekonomi terbesar, yaitu 19 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Dari Italia, kota di negeri piza pun ada yang mengikuti Catalonia untuk meminta refendum kemerdekaan pada awal Oktober. Dua wilayah terkaya di Italia, yaitu Lombardy dan Veneto, mengadakan jajak pendapat refendum untuk meminta otonomi lebih besar dari pemerintah pusat di Roma. Pemilih Lombardy dan Veneto pun mendukung kekuatan otonomi daerah.

Sementara itu, dari Austria, Partai Kebebasan Sayap Kanan dan Partai Kerakyatan Konservatif tampaknya akan berkoalisi.

Schroders menilai, risiko politik sepertinya cenderung akan teratasi dengan ada perpanjangan program pelonggaran kuantatif (QE) oleh bank sentral Eropa. Pelonggaran kuantatif diperpanjang hingga September 2018. Akan tetapi, pembelian bulanan dikurangi dari 60 miliar euro menjadi 30 miliar euro. Faktor ini juga pengaruhi ekonomi global terutama pasar saham Eropa.

"Keputusan untuk memperpanjang QE seharusnya akan terus mendukung pasar saham Eropa," tulis Schroders.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Selanjutnya: Waspadai Risiko Global

Selain dari risiko politik yang masih menghangat, Schroders juga menyoroti pertumbuhan global yang kian melaju diikuti inflasi terkendali. Ini ditunjukkan dengan perkiraan IMF mengenai pertumbuhan global yang lebih tinggi untuk Uni Eropa dan Tiongkok. Komisi Eropa bahkan perkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dapat mencapai 2,2 persen untuk zona euro pada 2017.

"Kawasan Uni Eropa dibantu oleh quantative easing, dikejutkan oleh beberapa pertumbuhan yang jauh lebih baik dari perkiraan," tulis Schroders.

Selain itu, pulihnya harga-harga komoditas dan kondisi Tiongkok yang relatif stabil mendukung ekonomi negara-negara berkembang.

Inflasi terkendali juga didukung peningkatan upah dan harga masih rendah, meski pertumbuhannya cukup baik. Meski demikian, kenaikan gaji masih belum sesuai harapan walau saat ini tingkat pengangguran rendah. Ini juga membuat bingung para pembuat kebijakan.

Ada sejumlah kemungkinan alasannya antara lain globalisasi tenaga kerja lantaran pengurangan serikat pekerja dan kemajuan teknologi. Ditambah harga komoditas dan nilai tukar, peningkatan jumlah kontrak kerja temporer.

pertumbuhan global pun akan semakin mengurangi tingkat pengangguran. Namun, pembuat kebijakan juga harus mewaspadai perubahan hubungan antara pengangguran dan inflasi.

Meski ada pertumbuhan global dan inflasi terkendali, ada sejumlah hal yang mesti diwaspadai pelaku pasar. Pertama, deflasi. Kedua, krisis kredit Tiongkok. Ketiga, lonjakan imbal hasil obligasi.

Artikel Selanjutnya
Sri Mulyani: Capai Ekonomi 5,4 Persen Tak Mudah buat RI
Artikel Selanjutnya
Industri Perbankan RI Paling Menarik di Asia Tenggara