Sukses

Bursa Asia Menguat di Tengah Penantian Rilis Data Ekonomi China

Liputan6.com, Tokyo Bursa Asia menguat terpicu investor yang menunggu rilisnya data ekonomi utama dari China dan Amerika Serikat. Di sisi lain, mata uang virtual bitcoin terus menanjak.

Melansir laman Reuters, Jumat (8/12/2017), indeks Nikkei Jepang memimpin kembali dengan naik 0,9 persen. Sementara pasar saham Australia menguat 0,4 persen, indeks MSCI saham Asia Pasifik di luar Jepang naik tipis 0,1 persen.

 

Saat ini, investor di Asia sedang menunggu rilisnya angka perdagangan November dari China, untuk mengukur denyut nadi pertumbuhan global dan permintaan komoditas dari negara raksasa di Asia tersebut.

Hal yang dinanti lainnya, keluarnya daftar gaji non-pertanian AS. Investor berharap adanya 200 ribu pekerjaan baru di November.

Kemudian perkembangan negosiasi antara Inggris dan Irlandia mengenai bagaimana menjalankan perbatasan di darat pasca-Brexit. Kesepakatan tersebut dapat menghapus hambatan terakhir untuk membuka perundingan perdagangan bebas dengan Uni Eropa.

Bursa Asia mengekor Wall Street yang menguat, terdorong saham perusahaan teknologi.  Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,29 persen menjadi 24.211,48 poin. Sementara indeks  S&P 500 naik 0,29 persen menjadi 2.636,98. Dan Nasdaq Composite bertambah 0,54 persen menjadi 6.812,84.

Adapun pendorong penguatan Wall Street pada penutupuan kali ini adalah saham Faebook (FB.O) yang naik 2,31 persen. Kemudian saham perusahaan induk Google Alphabet (GOOGL.O) yang bertambah 1,23 persen, mendorong indeks S & P 500 berakhir lebih tinggi setelah turun untuk empat sesi berturut-turut.

 

1 dari 2 halaman

Mata Uang dan Komoditas

Spekulasi tentang hasil kesepakatan antara Inggris dan Irlandia sterling mendorong pound sterling rebound mencapai US$ 1,3474, usai mencapai posisi terendah US$ 1,3320.

Itu adalah salah satu dari beberapa mata uang yang menguat selain Doar. Mata uang Amerika Serikat (AS) ini menguat terhadap Yen ke posisi 113.00 yen. Namun Euro menyentuh level terendah dua minggu di US$ 1,1770. 

Di sisi lain bitcoin kembali mencetak rekor. Mata uang virtual ini menembus di atas US$ 16.600 setelah mendaki lebih dari 47 persen minggu ini.

Harga emas turun 1 persen, mendekati posisi terendah dalam empat bulan seiring penguatan Wall Street dan dolar AS yang terpicu optimisme tentang kebijakan pajak.

Harga emas di pasar Spot turun 1 persen menjadi US$ 1.251,11 per ounce. Harga memantul dari titik terendah empat bulan di posisi US$ 1.250,51 per ounce.

Sementara emas berjangka AS untuk pengiriman Februari turun US$ 13, 1 persen menjadi US $ 1.253,10 per ounce.

 

Harga minyak naik terpicu ancaman serangan pekerja minyak di Nigeria. Harga minyak berjangka Brent US$ 62,20 per barel setelah naik 98 sen semalam. Minyak mentah AS turun 10 sen ke US$ 56,59.

Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Tertekan Ikuti Wall Street
Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Tertekan Imbas Uji Coba Bom Korea Utara