Sukses

Kuota Subsidi Elpiji Jebol, Pertamina Talangi Rp 1 Triliun

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) memproyeksikan penyaluran elpiji subsidi 3 Kilogram (Kg) akan lebih tinggi 1,6 persen dari kuota yang ditargetkan di dalam Anggapan Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017. Volume  hampir mencapai 100 ribu metrik ton. 

Direktur Pemasaran Pertamina, Muchamad Iskandar mengungkapkan, realisasi penyaluran elpiji subsidi 3 kg telah mencapai 5,75 juta metrik ton atau 93 persen dari kuota yang ditetapkan pada APBN-P 2017 sebesar 6,199 juta metrik ton.

"Ini karena isu kelangkaan (elpiji 3 kg), masyarakat jadi nambah stok karena panik. Yang biasa beli 1-2 tabung cukup, sekarang beli 4 tabung. Tambahannya mendadak," tegas dia di kantornya, Jakarta, Jumat (8/12/2017).

Iskandar mengakui, perusahaan meningkatkan penyaluran tabung melon dari 20,2-20,3 ribu metrik ton per hari menjadi 23-24 ribu metrik ton guna mengamankan stok sehingga masyarakat tidak sulit mendapatkan elpiji 3 Kg karena isu kelangkaan.

"Kami tetap berkomitmen memenuhi kebutuhan masyarakat walaupun dengan konsekuensi terjadi overkuota. Karena kami tidak langsung rem pasokan, dan penyaluran tetap seperti biasa," jelas dia.

Iskandar memperkirakan penyaluran elpiji 3 kg akan melebihi kuota yang dipatok di APBN-P 2017. Pada akhir Desember ini, proyeksinya lebih tinggi 1,6 persen atau sekitar 99.184 metrik ton atau hampir mendekati 100 ribu metrik ton.

"Sekitar 1,6 persen itu sekitar 100 ribu metrik ton overkuota. Ini risikonya ada di kami, khawatir anggarannya tidak cukup karena pakai APBN," ujar dia.

Oleh karena itu, mau tidak mau Pertamina akan menalangi kelebihan anggaran akibat kuota yang jebol. Nilainya cukup besar kurang lebih Rp 1 triliun. "Pasti iya (ditalangi Pertamina). Kurang lebih Rp 1 triliun. Makanya kami akan komunikasikan dengan pemerintah," tegas Iskandar.

Untuk diketahui, pemerintah mengalokasikan anggaran program pengelolaan subsidi sebesar Rp 168,88 triliun di APBN-P 2017. Di antaranya untuk subsidi BBM jenis tertentu dan elpiji 3 kg Rp 44,49 triliun, serta subsidi listrik Rp 45,38 triliun.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Pemicu Elpiji 3 Kg Mulai Langka di Pasaran

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) menyebut beberapa faktor utama penyebab isu kelangkaan elpiji ukuran 3 kilogram (kg) di sejumlah daerah, termasuk di Jabodetabek akhir-akhir ini. Masyarakat panik dan resah terhadap rencana kebijakan pemerintah dan perusahaan konsumsi elpiji subsidi tersebut.

Direktur Pemasaran Pertamina, Muchamad Iskandar, mengungkapkan pemicu isu kelangkaan tabung melon disebabkan beberapa hal. Pertama, karena masyarakat panik atas rencana distribusi tertutup untuk elpiji 3 kg pada 2018 yang sudah digembar-gemborkan pemerintah.

"Pemerintah kan sudah gembar-gembor distribusi tertutup di 2018, dan ini sempat memancing kepanikan konsumen masyarakat, sehingga mereka membeli berlebihan mengisi dua-tiga stok tabung di rumah, dan akhirnya masyarakat yang benar-benar membutuhkan jadi sulit mendapat elpiji 3 kg," jelas dia saat konferensi pers di kantor pusat Pertamina, Jakarta, Jumat 8 Desember 2017.

Saat ini, kata Iskandar, elpiji subsidi 3 kg tidak hanya dikonsumsi masyarakat miskin. Penyalurannya tidak tepat sasaran karena masih menerapkan distribusi terbuka. Artinya tidak ada kriteria penerima tabung melon hanya untuk rumah tangga miskin. Dalam Peraturan Presiden (Perpres) hanya disebutkan rumah tangga dan usaha mikro.

"Distorsi ini meluas karena elpiji subsidi dikonsumsi masyarakat luas. Pompa sawah saja yang tadinya pakai bahan bakar minyak (BBM), bisa diganti pakai elpiji 3 kg. Belum lagi warung-warung kecil sudah menjalar," dia menjelaskan.

"Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena distribusinya masih terbuka. Jadi sebenarnya skenario distribusi tertutup menjadi solusi ke depan supaya lebih bagus lagi, dan tepat sasaran," Iskandar menambahkan.

Penyebab lain isu kelangkaan ini mencuat, lebih jauh kata Iskandar, rencana peluncuran Bright Gas ukuran 3 kg nonsubsidi pun menjadi pemicu keresahan di masyarakat.

Menurut dia, masyarakat menganggap Bright Gas ini akan menggantikan tabung melon. "Kesannya seolah-olah Bright Gas 3 kg mau menggantikan elpiji subsidi, jadi bikin keresahan. Tapi memang kami rencana tetap launching Bright Gas 3 kg nonsubsidi pada Maret ini," dia menjelaskan.

Kondisi ini, diakui Iskandar, mengakibatkan terjadinya kenaikan permintaan elpiji 3 kg di awal bulan ini atau di luar tren menjelang Natal dan tahun baru yang meningkat di akhir bulan. "Biasanya kalau ada Natal dan tahun baru, kebutuhan elpiji meningkat di akhir bulan, tapi ini di awal sudah muncul kenaikan," ujar Iskandar.

Oleh karena itu, lanjutnya, penyaluran elpiji 3 kg sudah ditingkatkan menjadi 23 ribu-24 ribu metrik ton guna mengamankan suplai dan masyarakat tidak susah mendapatkan elpiji.

"Sampai kapan penyaluran segitu? Sampai situasi ini (kelangkaan) mereda. Jadi kami minta masyarakat tidak resah dan gelisah, kami berkomitmen memenuhi kebutuhan masyarakat secara penuh," ucap Iskandar.

Menurut dia, peningkatan permintaan ini hanya bersifat sementara. Ketika masyarakat sudah mengisi stok elpiji 3 kg di rumah, kata Iskandar, maka situasinya akan kembali normal.

"Itu hanya kenaikan sesaat, kami tidak khawatir. Mereka hanya memenuhi kebutuhan tabung kosong saja, cuma untuk stok. Begitu dua-tiga tabungnya sudah terisi, permintaan turun lagi," ujar Iskandar.

Artikel Selanjutnya
Tarif Listrik Tak Naik, PLN Minta Keistimewaan Harga Batu Bara
Artikel Selanjutnya
Tak Ada Kenaikan Harga BBM, Elpiji dan Listrik di 2018