Sukses

BI: Kurangi Penggunaan Dolar AS Untungkan Pelaku Usaha

Liputan6.com, Karangasem - Indonesia bersama Thailand dan Malaysia sepakat mengurangi penggunaan dolar Amerika Serikat (AS) dalam transaksi perdagangan bilateral antarnegara. Hal ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan ketiga negara tersebut terhadap dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan, selama ini ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS masih sangat tinggi. Sebagai contoh, dalam kegiatan ekspor, 94 persennya masih menggunakan dolar AS.

"Oh tinggi sekali, 94 persen ekspor Indonesia masih menggunakan dolar, dan 76 persen dari impor Indonesia masih menggunakan dolar," ujar dia di Karangasem, Bali, Sabtu (23/12/2017).

Namun, dengan mulai mengurangi penggunaan dolar AS, diharapkan ketiga negara ini bisa lebih banyak memanfaatkan mata uang masing-masing dalam kerja sama bilateral seperti perdagangan dan investasi.

"Jadi kalau kita sudah mulai memperkenalkan mata uang rupiah atau ringgit, atau baht itu membuat di antara ketiga negara ini kalau melakukan kegiatan perdagangan ekspor-impor maupun investasi sudah bisa menggunakan mata uang lokalnya. Jadi ini mengurangi ketergantungan pada currency yang utama seperti dolar," kata dia.

Selain itu, dengan mengurangi penggunaan dolar AS, juga bisa memberikan dampak kepada pelaku ekonomi di dalam negeri.

"Tapi selain itu tujuannya diversifikasi, tujuannya adalah untuk mengurangi biaya sehingga kaum pedagang maupun pelaku ekonomi bisa menerima manfaat. Yang terakhir, ini baik untuk pendalaman pasar keuangan sehingga mata uang rupiah atau ringgit dan baht lebih digunakan sendiri," ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Kurangi Ketergantungan Dolar AS, Menkeu Ingin Ekonomi RI Lebih Sehat

Sebelumnya, tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand sepakat untuk menggunakan mata uang lokal dalam perdagangan bilateral. Salah satu tujuan kesepakatan ini adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, masing-masing negara tentu memiliki tujuan sendiri untuk mengurangi dominasi dolar dalam kegiatan ekonominya. Namun bagi Indonesia, hal tersebut dilakukan untuk kepentingan neraca perdagangan, neraca investasi dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

‎‎"Kalau secara negara, tentu mereka membuat keputusan berdasarkan apa yang dianggap strategis berdasarkan komposisi kebutuhan. Kalau kita akan terus melihat dari sisi neraca perdagangan, dari sisi necara investasi dan capital flow dan kebutuhan-kebutuhan ke depan," ujar dia di Bali, Sabtu 23 Desember 2017.

Oleh sebab itu, kata dia, mendiversifikasikan penggunaan mata uang baik dari sisi utang, maupun dari sisi investasi dan perdagangan memang sesuatu yang harus dilakukan. Hal ini agar Indonesia tidak tergantung hanya kepada satu negara tujuan seperti AS.

"Pada dasarnya suatu negara yang memiliki diversifikasi berarti dia memiliki kemampuan untuk bertahan bila ada disruption atau ada shock dari satu pihak," kata dia.

Menurut Sri Mulyani, selama ini sebenarnya telah melakukan langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing termasuk dolar AS. Dengan demikian diharapkan perekonomian Indonesia bisa lebih sehat dan stabil.

"Indonesia juga melakukan. Selama ini kita melakukan pada saat situasi ekonominya mengalami eskalasi. Indonesia melakukan dengan Jepang, Eropa, China, sehingga kita memiliki pilihan dan itu adalah sesuatu yang sehat," ujar dia.

Artikel Selanjutnya
Kekhawatiran Penutupan Pemerintahan AS Dorong Penguatan Rupiah
Artikel Selanjutnya
BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,25 Persen