Sukses

Ini Tantangan Global yang Harus Dihadapi Pasar Modal RI

Liputan6.com, Jakarta - Pasar modal Indonesia tidak hanya menjumpai sejumlah tantangan dari domestik seperti pemilihan kepala daerah (Pilkada) di tahun 2018. Namun, tantangan tersebut juga berasal dari global.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengungkapkan, salah satu tantangan di tahun depan ialah penilaian dari lembaga pemeringkat dunia seperti Standard and Poor's (S&P).

"Nanti ada S&P yang menentukan rating kemampuan cash flow suatu negara," kata dia dia BEI Jakarta, Kamis (28/12/2017).

Selanjutnya, tantangan datang dari perubahan bobot dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Indeks tersebut kerap menjadi tolak ukur bagi investor asing maupun manajer investasi.

"Itu dia (MSCI) US$ 12,7 triliun ikut sama dia. Kita sekarang 2,2 persen itu ditentukan besarnya pasar," jelas dia.

Sementara, China sendiri akan membuka pasar saham seri A di Shanghai dan Beijing. Jika terjadi, maka porsinya akan semakin besar dan mendilusi MSCI.

Kemudian, hal tersebut juga dipengaruhi oleh pelepasan saham oleh perusahaan minyak dan gas Arab Saudi, Aramco. "Kedua Aramco akan listed Riyadh market cap US$ 1,2 triliun membuat bisa mendilusi jika kita tidak membesarkan pasar," ungkap dia.

Sebab itu, dia menuturkan, pekerjaan rumah BEI saat ini ialah membesarkan kapitalisasi pasar di BEI. "Tapi mimpi besar mengejar ketinggalan market cap Rp 10 ribu triliun," tukas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Tepis Investor Asing Cabut

Sebelumnya, BEI menepis jika dana investor asing keluar dari pasar modal Indonesia. BEI mengklaim, investor asing tengah merealisasikan sebagian keuntungan di pasar modal Indonesia.

Tito menerangkan, kepemilikan saham investor asing hingga 19 Desember 2017 mencapai Rp 1.912 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibanding tahun 2016 mencapai Rp 1.691 triliun.

Keuntungan dari investasi saham di tahun 2017 totalnya Rp 261 triliun. Kemudian, investor asing mengambil keuntungan dari investasi sebesar Rp 40 triliun.

Jadi, lanjutnya, investor asing masih memiliki keuntungan di pasar modal sebesar Rp 221 triliun.

"Asing tidak keluar di Indonesia. Betul, sampai 19 Desember mereka itu Rp 40 triliun kata-katanya net sell sebenarnya kalau dilihat dulu setiap asing jual turun. Tapi market cap uang yang mereka pegang tadi Rp 1.691 triliun sekarang Rp 1.912 triliun. Ini jual beli mereka masih untung Rp 221 triliun yang belum direalisasi," jelas dia.

Dia menegaskan, dengan kondisi tersebut investor asing tidak cabut dari Indonesia. Menurutnya, investor tersebut hanya merealisasikan sebagian keuntungan di pasar modal.

Tito menambahkan, itu hanya keuntungan di pasar saham. Realisasi tersebut belum memasukan keuntungan dari intrumen pasar modal lain seperti obligasi.

"Walaupun Rp 40 triliun masih untung Rp 221 triliun. Jadi mereka enggak kabur hanya merealisasikan sebagian keuntungan dana mereka di Indonesia," tandas dia.

 

Artikel Selanjutnya
Kontribusi Sektor Usaha Ini Bakal Dominasi Ekonomi RI
Artikel Selanjutnya
Investor Asing Kuasai 40 Persen Surat Utang, Bahayakah buat RI?