Sukses

Sukseskan OK-OTRIP, Anies Minta Dukungan Bank Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pagi ini menemui Gubernur Bank Indonesia Agus DW Martowardojo di Kompleks Bank Indonesia. Salah satu agendanya adalah meminta dukungan dalam mensukseskan program OK-OTRIP.

OK-OTRIP ini sendiri merupakan penamaan dari sistem transportasi terintegrasi yang dijanjikan Anies-Sandi. Nantinya setiap warga DKI Jakarta cukup membayar Rp 5 ribu untuk satu tujuan perjalanan.

"Di mana di situ kita memerlukan dukungan BI agar program OK-OTRIP yang menggunakan kartu bisa tersambung dengan sistem perbankan dan sesuai dengan seluruh peraturan yang ada di BI," tegas Anies di Kompleks Bank Indonesia, Jumat (5/1/2017).

Rencananya penerapan OK-OTRIP ini akan dilakukan pada 15 Januari 2018. Oleh sebab itu, perlu ada review dari Bank Indonesia sebelum diluncurkan, karena hal ini menyangkut sistem pembayaran nontunai.

"Harapannya nanti pilot project yang akan kita mulai tanggal 15 (januari) bisa berjalan baik," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Janji Kampanye

Sebelumnya, Anies telah meluncurkan program OK-OTRIP di Balai Kota pada pertengahan Desember 2017. Dengan program ini, warga Jakarta dapat bepergian ke mana saja dengan membayar Rp 5 ribu mulai 15 Januari 2017.

"Kita menerapkan sistem angkutan terintegrasi, mulai dari integrasi rute dan layanan, manajemen, hingga pembayaran," kata Anies Baswedan.

Warga dapat berpindah angkutan dari Transjakarta, Kopaja, hingga angkutan kota dengan menggunakan kartu OK-OTRIP. "Durasi maksimal tiga jam perjalanan," kata dia.

Anies mengaku bersyukur salah satu janji kampanyenya sudah dapat dilaksanakan. Rencananya akan dilakukan uji coba dari Januari-April dengan membayar Rp 3.500.

"Kita bersyukur dalam waktu dua bulan bisa kita luncurkan. Rencana kita uji coba tiga bulan (Januari-April). Tujuannya kami ingin meladeni warga dengan lebih murah dan lebih mudah," ucap Anies.

Kepala Dinas Perhubungan Andri Yansyah mengatakan, uji coba dilakukan di empat wilayah kota, di antaranya kawasan Jelambar (Jakarta Barat), kawasan Duren Sawit (Jakarta Timur), kawasan Warakas (Jakarta Utara), kawasan Lebak Bulus (Jakarta Selatan).

Area tersebut dipilih selain karena merupakan kawasan padat penduduk yang belum terjangkau oleh layanan angkutan umum, juga karena rute yang melintasi banyak fasilitas umum, lebar jalan lingkungan lebih dari lima meter.

Artikel Selanjutnya
Maruarar Sirait: Piala Presiden 2018 Bebas Pengaturan Skor
Artikel Selanjutnya
Anies Baswedan Akan Pajang Nama Pengemplang Pajak di Spanduk