Sukses

Bursa Asia Positif, IHSG Menanjak 61 Poin

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak perkasa menjelang akhir pekan ini meski sempat turun pada awal perdagangan saham.

Pada penutupan perdagangan saham, Jumat (5/1/2018), IHSG naik 61,41 poin atau 0,98 persen ke posisi 6.353,73. Indeks saham LQ45 menguat 1,21 persen ke posisi 1.080,15. Seluruh indeks saham acuan menghijau.

Ada sebanyak 216 saham menguat sehingga mendorong IHSG ke zona hijau. 122 saham melemah. 124 saham lainnya diam di tempat. IHSG sempat berada di level tertinggi 6.353,73 dan terendah 6.278,72.

Transaksi perdagangan saham cukup ramai menjelang akhir pekan ini. Total frekuensi perdagangan saham 326.306 kali dengan volume perdagangan 11 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 6,5 triliun. Investor asing melakukan aksi beli Rp 339,69 miliar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 13.409.

Secara sektoral, sebagian besar sektor saham menghijau kecuali sektor saham pertanian turun 0,60 persen. Sektor saham tambang naik 3,01 persen, dan mengangkat sektor ini catatkan performa terbaik. Disusul sektor saham barang konsumsi menguat 1,71 persen dan sektor saham manufaktur mendaki 1,41 persen.

Saham-saham yang catatkan penguatan antara lain saham PNBS naik 14,49 persen ke posisi Rp 79, saham DOID melonjak 9,79 persen ke posisi Rp 785, dan saham FINN menguat 9,52 persen ke posisi Rp 115 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham MABA melemah 24,50 persen ke posisi Rp 570 per saham, saham PSSI tergelincir 14,53 persen ke posisi Rp 200, dan saham SMDR turun 4,98 persen ke posisi Rp 458 per saham.

Bursa saham Asia sebagian besar menguat kecuali indeks saham Singapura turun 0,44 persen. Indeks saham Hong Kong Hang Seng menguat 0,25 persen, indeks saham Korea Selatan Kospi menanjak 1,26 persen, indeks saham Jepang Nikkei menguat 0,89 persen, indeks saham Shanghai mendaki 0,18 persen dan indeks saham Taiwan menanjak 0,29 persen.

"IHSG masih minim sentimen. Lebih kepada rebalancing. IHSG mencari saham-saham yang berpotensi naik. IHSG masih cenderung konsolidasi," ujar Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, penguatan IHSG juga didorong dari sentimen ekternal. Hal itu didorong dari bursa saham Asia cenderung positif. "Sentimen lebih banyak kepada Asia. Bursa Asia masih melanjutkan aksi beli," kata Reza.

 Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

IHSG Merosot di Awal Sesi

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada pembukaan perdagangan Jumat pekan ini. Gerak IHSG ini berseberangan dengan bursa Asia yang menguat.

Pada pembukaan perdagangan saham, Jumat 5 Januari 2018, IHSG turun tipis 4,14 poin atau 0,06 persen ke posisi 6.288,39. Indeks saham LQ45 juga susut 0,06 persen ke posisi 1.066,67. Gerak indeks saham acuan bervariasi.

Ada sebanyak 95 saham menguat, tetapi tak mampu mengangkat IHSG. Terdapat 52 saham melemah. Di luar itu, 87 saham lainnya diam di tempat.

Pada awal sesi, IHSG sempat berada di level tertinggi 6.292,10 dan terendah 6.278,72. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 15.066 kali dengan volume perdagangan saham 501 juta saham. Nilai transaksi harian saham sekitar Rp 234 miliar.

Investor asing melakukan aksi jual Rp 23 miliar di seluruh pasar. Posisi dolar Amerika Serikat (AS) berada di kisaran Rp 13.400.

Secara sektoral, antara sektor yang menguat dan melemah berimbang. Sektor saham yang menguat adalah perkebunan, pertambangan, kontruksi, infrastruktur dan keuangan.

Saham-saham catatkan top gainers di awal sesi antara lain saham IKAI naik 34,69 persen ke posisi Rp 132, saham KARW melonjak 32,26 persen ke posisi Rp 164 per saham dan saham PCAR menguat 25 persen ke posisi Rp 615 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tergelincir antara lain saham MABA turun 24,50 persen ke posisi Rp 570, saham JMAS tergelincir 4,55 persen ke posisi Rp 735 per saham, dan saham SMDR susut 2,90 persen ke posisi Rp 472 per saham.

Di asia, indeks Patokan Jepang mampu menyentuh level tertinggi dalam 26 tahun. Penguatan pasar saham di kawasan Asia ini mengikuti yang terjadi pada Wall Street.

Indeks acuan Jepang Nikkei naik 0,61 persen di awal perdagangan, meneruskan penguatan yang telah dibukukan pada perdagangan sebelumnya yang tercatat 3 persen. Pada perdagangan kemarin, indeks acuan di Jepang ini menyentuh level tertinggi dalam 26 tahun.

Bergeser ke Korea Selatan, Indeks Kospi naik 0,46 persen dipicu kenaikan saham-saham di sektor otomotif. Selain itu, saham-saham blue chip juga menjadi pendorong penguatan Kospi.

Di Australia, S&P/ASX 200 naik tipis 0,5 persen seiring penguatan sektor komunikas dan tambang. Harga komoditas yang melonjak menjadi dasar penguatan bursa saham di Australia ini.

Artikel Selanjutnya
IHSG Berpeluang Menghijau, Intip 4 Saham Pilihan
Artikel Selanjutnya
Usai Tembus Rekor, Laju IHSG Diproyeksi Berbalik Arah