Sukses

Ratu Prabu Energi Minat Bangun LRT, Bagaimana Pendanaannya?

Liputan6.com, Jakarta - PT Ratu Prabu Energi Tbk (ARTI) berminat membangun light rail transit (LRT) dengan nilai investasi US$ 25 miliar atau sekitar Rp 335,49 triliun (asumsi kurs Rp 13.419 per dolar Amerika Serikat). Lalu bagaimana potensi pendanaan untuk membiayai proyek LRT tersebut?

Melihat laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan mencatatkan total aset Rp 2,53 triliun pada 30 September 2017 dari posisi 31 Desember 2016 sebesar Rp 2,61 triliun.

Total liabilitas perseroan mencapai Rp 798,75 miliar pada 30 September 2017 dari posisi 31 Desember 2016 sebesar Rp 885,64 miliar. Total ekuitas tercatat Rp 1,73 triliun pada 30 September 2017. Perseroan kantongi kas Rp 9,93 miliar hingga akhir September 2017.

Perseroan mencatatkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi Rp 2,23 miliar hingga kuartal III 2017 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,55 miliar. Pendapatan perseroan mencapai Rp 162,94 miliar hingga 30 September 2017.

Analis PT Binaarta Sekuritas, Reza Priyambada menuturkan, bila melihat kinerja keuangan perseroan hingga akhir September 2017, PT Ratu Prabu Energi Tbk kemungkinan mencari pendanaan dari luar.

"Mereka harus pendanaan dari luar bisa lewat obligasi dan rights issue," ujar Reza saat dihubungi Liputan6.com, Senin (8/1/2018).

Lebih lanjut ia menuturkan, perseroan juga bisa mencari pinjaman. Akan tetapi, proyek LRT yang nilai investasi cukup besar, menurut Reza, berdampak terhadap biaya bunga yang ditanggung PT Ratu Prabu Energi Tbk cukup besar. "Pinjaman memungkinkan tetapi seberapa besar pinjaman bunga yang ditanggung," kata dia.

Terkait harga saham PT Ratu Prabu Energi Tbk yang tetap stagnan di kisaran Rp 50 meski ada kabar akan membangun LRT, menurut Reza hal itu lantaran pelaku pasar menanti kepastian proyek LRT yang dibangun PT Ratu Prabu Energi Tbk berjalan. Pada Senin 8 Janauri 2018, harga saham PT Rabu Prabu Energi Tbk berada di kisaran Rp 50. Total frekuensi perdagangan saham 697 kali dengan nilai transaksi Rp 914 juta.

"Belum ada kejelasan pendanaan. Pelaku pasar melihat pendanaan yang dilakukan (perseroan)," ujar Reza

Reza menilai, pelaku pasar juga harus mencermati pendanaan yang dilakukan PT Ratu Prabu Energi Tbk untuk membiayai LRT. "Kalau terbitkan obligasi cermati apakah obligasi tersebut diserap pasar, demikian juga dengan rights issue," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Gerak Harga Saham Ratu Prabu Energi

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan siap membangun light rail transit (LRT) berkelas dunia. Sandiaga akan bekerja sama dengan dunia usaha untuk garap LRT tersebut.

"Tadi kita kedatangan grup Ratu Prabu Energi. Salah satu usaha besar di Indonesia yang membawa konsep yang sudah cukup matang, yaitu membangun lebih dari 200 kilometer tambahan LRT di wilayah Jakarta dan sekitarnya," ujar Sandiaga, di Balai Kota, Kamis 4 Januari 2018.

Menurut Sandiaga, total investasi atas proyek LRT ini sekitar US$ 25 miliar dan akan dibangun dalam periode lima tahun yaitu dari 2020 hingga 2025. Adapun total dana yang digalang, sekitar Rp 320 triliun.

PT Ratu Prabu Energi Tbk merupakan perusahaan yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham ARTI.

Meski ada kabar perseroan akan ikut garap proyek LRT, saham ARTI relatif stagnan pada perdagangan saham menjelang akhir pekan ini.Pada perdagangan saham Jumat (5/1/2018) pukul 15.44 WIB, Saham PT Rabu Prabu Energy Tbk berada di kisaran Rp 50. Total frekuensi perdagangan 304 kali dengan nilai transaksi Rp 670,9 juta saham.

Bila melihat pergerakan saham perseroan selama lima tahun ini, mengutip data RTI, harga saham PT Ratu Prabu Energi Tbk cenderung turun. Pada 11 April 2013, saham PT Ratu Prabu Energi Tbk sempat berada di level tertinggi Rp 395. Kemudian pada 3 November 2016, harga saham ARTI sempat berada di level tertinggi Rp 263. Harga sahamnya pun terus merosot menjadi Rp 68 pada 5 Desember 2016.

Harga saham PT Ratu Prabu Energi Tbk pun sempat sentuh level Rp 50 pada 4 November 2016. Hal itu berlanjut hingga perdagangan saham 5 Januari 2018.

Artikel Selanjutnya
LRT Jabodebek Ditargetkan Beroperasi di Oktober 2019
Artikel Selanjutnya
LRT Ratu Prabu Bakal Dibangun Tengah 2019, Tiketnya Rp 20 Ribu