Sukses

Negara Kantongi Rp 933 Miliar dari Energi Panas Bumi

Liputan6.com, Jakarta Energi panas bumi Indonesia menyetor Rp 933 miliar ke kas negara sepanjang 2017. Setoran ini merupakan Pendapatan Belanja Negara Bukan Pajak (PBNP) dari sektor Energi Baru Terbarukan (EBT).

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ‎ Rida Mulyana mengatakan, penerimaan negara dari energi panas bumi pada 2017,  mencapai 140 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) sebesar Rp 671,26 miliar.

‎"Penerimaan panas bumi mencapai Rp 933 miliar sampai akhir 2017. 140 persen dari target‎," kata dia di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (10/1/2018).

Dia mengatakan, jika dibandingkan dengan realisasi penerimaan pada sebelumnya sebesar Rp 932,28 miliar, capaian penerimaan energi panas bumi yang telah dimanfaatkan menjadi listrik, melalui Pembangkit Listrik Tanaga Panas Bumi (PLTP) pada‎ tahun ini juga lebih tinggi. 

Rida mengungkapkan komposisi penerimaan tersebut berasal dari wilayah kerja panas bumi. Ini antara lain dari PLTP yang telah beroperasi ‎sebesar Rp 909 miliar dan Wilayah Kerja Panas bumi Izin Panas Bumi Rp 24 miliar.

"Ini walau tidak sebesar sektor migas, minerba namun kami juga menyumbang atau berkontribusi pada penerimaan negara," dia menjelaskan.

Selian menyumbang ke pemerintah pusat, energi panas bumi juga memberi manfaat kepada 25 kabupaten kota yang terdapat wilayah kerja panas bumi, ‎dengan menyetor bonus produksi sebesar Rp 177,74 miliar.

‎"Bedanya ini dengan penerimaan negara lainnya adalah langsung dinikmati pemda setempat, sekarang pemda yang kebetulan di dalam lokasinya atau wilayahnya ada PLTP punya kecenderungan lebih kooperatif karena dapat benefit langsung berupa uang," dia menandaskan.

1 dari 2 halaman

RI Jadi Pengguna Listrik Panas Bumi Terbesar Kedua Dunia

Indonesia‎ berhasil menyalip Filipina sebagai negara terbesar kedua pengguna energi panas bumi, seiring beroperasinya Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP) sebesar 1.838 Mega Watt (MW).

Direktur Panas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM)‎ Yunus Saefulhak mengatakan, PLTP yang beroperasi di Indonesia bertambah 165 MW dari 1.643 MW pada 2016 menjadi 1.838,5 MW.

"Tambahan kapasitas terpasang 2017 dari PLTP Ulubelu Lampung unit 4 sebesar 55 MW dan PLTP Sarulla Unit 2 110 MW," kata Yunus di Kantor Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE), Jakarta, Rabu (27/12/2017).

Menurut Yunus, dengan mengalirnya pasokan listrik sebesar 1.838 MW dari PLTP, pada tahun ini Indonesia berhasil menyalip Filipina yang sebelumnya menjadi negara terbesar kedua dalam penggunaan listrik PLTP. Saat ini kapasitas pasokan listrik Filipina yang bersumber dari PLTP hanya sekitar 1.600 MW.

‎"Sekarang kalau kita klaim sudah menyalip Filipina. Filipina menurun dari 1.850 MW jadi 1.600‎ MW, jadi kita sudah menyalip, kita sudah 1.838 MW," papar Yunus.

Yunus mengatakan, Indonesia akan terus mengembangkan energi panas bumi. Targetnya, pada 2022 negara ini dapat menyalip Amerika ‎Serikat sebagai pengguna listrik dari panas bumi terbesar pertama di dunia.

Pada 2022, total pasokan listrik di Indonesia yang bersumber dari PLTP diprediksi mencapai lebih dari 3.500 MW, sedangkan Amerika Serikat hanya 3.500 MW.

"Nanti 2022 kita nomor satu 3.500 lebih. Amerika Serikat nggak mungkin tambah kapasitas lagi, mereka hanya bangun PLTS sama ada shale oil," tutup Yunus.

Artikel Selanjutnya
Konsumsi Batu Bara Dalam Negeri di 2017 Tak Capai Target
Artikel Selanjutnya
Negara Raup Rp 40,6 Triliun dari Sektor Pertambangan