Sukses

50 Ribu Warga Inggris Terancam Kehilangan Pekerjaan

Liputan6.com, Jakarta - Inggris diperkirakan akan kehilangan hampir 500 ribu pekerjaan dalam 12 tahun ke depan jika kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa gagal. Selain itu, Inggris juga diperkirakan bisa kehilangan investasi hingga 50 miliar pound sterling.

"Jika Pemerintah terus melakukan kesalahan negosiasi, kita akan menuju masa-masa suram karena pertumbuhan perekonomian dan lapangan kerja yang rendah," kata Khan. " jelas Walikota London Sadiq Khan seperti dikutip dari Reuters, Minggu (14/1/2018).

"Para Menteri mulai kehabisan waktu untuk mengubah hasil negosiasi." tambah dia. 

Kedua belah pihak memang terus melakukan perundingan mengenai kerja sama perdagangan sejak keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa atau British exit (Brexit). 

Cambridge Econometrics, sebuah konsultan ekonomi, melihat lima skenario berbeda mengenai Brexit, dari yang paling buruk dan menghancurkan dampak ekonomi hingga mempengaruhi bisnis perdagangan dan keuangan.

Studi tersebut mengatakan bahwa dalam skenario terbutuk, industri yang terkena dampak terburuk adalah layanan finansial dan konsultan profesional, dengan 119.000 jenis pekerjaan di seluruh Inggris.

Selama ini memang, para eksportir Inggrsi masih mendapatkan fasilitas tarif bebas dalam pasar tunggal Uni Eropa. Di luar itu, bank-bank dari negara tersebut masih bisa dengan bebas melayani pelanggan dari anggota Uni Eropa. 

Untuk diketahui Inggris dan Uni Eropa menang tengah menghadapi tugas yang sulit untuk menentukan hubungan perdagangan mereka di masa depan. Setelah sebelumnya menyelesaikan hasil negosiasi dari pemisahan.

Posisi antara Inggris dan Uni Eropa mengenai akses ke pasar tunggal untuk industri jasa keuangan di London merupakan pertempuran utama Brexit sebelum Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada Maret 2019.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

London Tetap Jadi Pusat Keuangan Dunia

London tetap menjadi pusat keuangan dunia yang paling menarik, meneruskan keunggulannya atas New York. Pencapaian London ini terjadi di tengah rencana Inggris untuk keluar dari Uni Eropa.

Dikutip dari laman Voice of America, Selasa (12/9/2017), keluarnya Inggris dari blok perdagangan tersebut telah membuat para politikus dan ekonom memperkirakan bahwa London akan kehilangan keunggulan statusnya sebagai pusat keuangan.

Namun, tanda-tanda yang menunjukkan hal itu belum banyak terjadi.

London berada di urutan pertama, diikuti oleh New York, Hong Kong, dan Singapura menurut survei Z/Yen indeks pusat keuangan global atau GFCI.

Survei ini menyusun peringkat 92 pusat keuangan berdasarkan faktor-faktor seperti infrastruktur dan akses ke staf dengan kualitas tinggi. New York kalah 24 poin dibandingkan ibu kota Inggris ini dan selisih poin terbesar antara kedua kota ini sejak survei dimulai 2007.

Peringkat New York mengalami penurunan terbesar di antara para pesaing dengan turun 24 poin dibanding tahun lalu.

Para penulis survei ini mengatakan, penurunan peringkat New York kemungkinan besar terjadi akibat ketakutan akan kebijakan perdagangan dengan AS.

Kelompok lobi keuangan paling kuat di Inggris, The CityUK memperingatkan untuk tidak terlena. Organisasi ini juga meminta kebijakan yang lebih jelas mengenai pengaturan-pengaturan masa transisi yang akan diberlakukan setelah April 2019, ketika Inggris secara resmi keluar dari Uni Eropa.

Artikel Selanjutnya
Soal Hak Siar, Serie A Raih Penghasilan Terbesar Kedua di Eropa
Artikel Selanjutnya
Halangi Istri Nongkrong di Pub, Pria Inggris Ini Beri Ancaman Bom