Sukses

Perbaharui Data Inflasi, BPS Survei Penggunaan Uang Elektronik

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) sedang melakukan survei biaya hidup dalam perhitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) atau inflasi pada tahun ini. Dalam survei biaya hidup ini, BPS akan memasukkan komponen penggunaan uang elektronik yang sedang digalakkan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti, mengungkapkan BPS berencana mengganti tahun dasar inflasi. Pada implementasinya, BPS akan menghitung seberapa banyak masyarakat yang menggunakan uang elektronik.

"Rencananya ke depan, kita akan ganti tahun dasar untuk tahun inflasi. Kita akan tinjau lagi seberapa banyak yang menggunakan itu (uang elektronik)," kata dia usai Rilis Inflasi Januari 2018 di kantornya, Jakarta, Kamis (1/2/2018).

Tahun ini, Yunita mengaku, BPS sedang melakukan survei biaya hidup kepada masyarakat. Salah satu yang akan diteliti adalah penggunaan uang elektronik di kalangan masyarakat, sehingga bisa terlihat dampak dari hal itu.

"BPS sedang survei biaya hidup tahun ini, kita akan tanyakan seberapa banyak masyarakat menggunakan itu (uang elektronik), apakah kena biaya administrasi sehingga nantinya akan ter-cover kalau itu signifikan," dia menjelaskan.

Hasil dari survei biaya hidup, termasuk data penggunaan uang elektronik, diakui Yunita baru akan tersaji pada 2019. "Karena surveinya tahun ini, nanti bisa kelihatan hasilnya di 2019," papar Yunita.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

BPS: Inflasi Januari 2018 Tercatat 0,62 Persen

BPS melaporkan inflasi Januari 2018 sebesar 0,62 persen. Adapun untuk inflasi tahun kalender 2018 sebesar 0,62 persen. Adapun inflasi dari tahun ke tahun sebesar 3,25 persen.

"Inflasi Januari 2018 ini lebih rendah dibandingkan Januari 2017 yang sebesar 0,98 persen. Akan tetapi lebih tinggi dibandingkan Januari 2016 ada inflasi 0,51 persen," ujar Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Kamis (1/2/2018).

BPS melaporkan dari 82 kota yang masuk dalam perhitungan, 79 kota alami inflasi, sedangkan tiga kota alami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bandar Lampung sebesar 1,42 persen. Sedangkan terendah di Tangerang sebesar 0,04 persen.

Untuk deflasi tertinggi tercatat di Jayapura sebesar 1,12 persen. Sedangkan deflasi terendah terjadi di Meulaboh sebesar 0,14 persen.

Artikel Selanjutnya
HEADLINE: Beda Data Impor Garam Kemenperin Vs KKP, Valid Mana?
Artikel Selanjutnya
Pengusaha: Pemerintah Rancu antara Garam Industri dan Konsumsi