Sukses

Kenaikan Imbal Obligasi Bikin Wall Street Bervariasi

Liputan6.com, New York - Wall Street ditutup bervariasi dipicu kenaikan imbal hasil obligasi dan penurunan saham teknologi, menjelang keluarnya laporan pendapatan sejumlah perusahaan besar.

Melansir laman Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 37,32 poin atau 0,14 persen menjadi 26.186,71. Sementara indeks S&P 500 turun 1,83 poin atau 0,06 persen menjadi 2.821,98 dan Nasdaq Composite melemah 25,62 poin atau 0,35 persen menjadi 7.385,86.

Ini merupakan minggu yang sulit bagi Wall Street. Sebagian besar laporan pendapatan perusahaan yang menguat terdampak kenaikan imbal hasil obligasi, seiring langkah bank sentral dunia keluar dari kebijakan moneter yang mudah.

Tercatat, indeks S&P 500 berada di jalur penurunan mingguan pertama dalam lima pekan.

Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga Fed fund, namun mengindikasikan prospek inflasi yang lebih hawkish.  Adapun imbal hasil obligasi AS yang terus meningkat tampaknya menjadi indikator ekonomi tentang prediksi inflasi Fed.

Klaim awal terkait tunjangan pengangguran berada di bawah ekspektasi, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang ketat. Data ISM menunjukkan harga yang harus dibayar pabrik AS mendekati level tertinggi dalam 7 tahun. Di mana biaya tenaga kerja kuartal keempat meningkat sebesar 2 persen, menambah kekhawatiran tentang angka inflasi.

Sektor perbankan lah yang mendapat keuntungan dari kondisi suku bunga yang lebih tinggi, dan mendorong peningkatan saham keuangan dalam indeks S&P 500 hingga 1 persen. Saham Goldman Sachs mendorong Dow ke wilayah positif. Dari 11 sektor utama pada indeks S&P 500, empat membukukan kenaikan.

Selain saham bank, saham milik eBay (EBAY.O) tercatat naik 13,8 persen setelah perusahaan melaporkan pendapatan dan mengumumkan akan melepaskan PayPal sebagai mitra pembayaran utamanya. Ini membuat saham PayPal turun 8,1 persen.

Analis melihat pertumbuhan pendapatan perusahaan pada indeks S&P 500 di kuartal keempat mencapai 14,9 persen, naik dari prediksi pada 1 Januari sebesar 12 persen. Sejauh ini, dari 227 perusahaan yang melaporkan pendapatan, sebesar 79,7 persen meraih di atasa prediksi.

UPS (UPS.N) juga tercatat mengalami penurunan saham sebesar 6,1 persen setelah melaporkan penurunan laba kuartal keempat dipicu biaya pengiriman musim liburan yang lebih tinggi. Perusahaan ini merupakan pecundang terbesar kedua pada indeks S&P 500.

"Laporan penghasilan berjalan dengan baik, ini menunjukkan bahwa pemotongan pajak perusahaan secara dramatis membantu setiap orang dalam hal profitabilitas," kata Stephen Massocca, Managing Director Wedbush Securities di San Francisco.

Pada perusahaan teknologi, saham Amazon.com (AMZN.O) tercatat naik lebih dari 2 persen. Saham Apple (AAPL.O) ditutup naik 0,2 persen menjelang pengumuman pendapatannya. Namun khusus saham Alphabet (GOOGL.O) turun lebih dari 4 persen.

 Volume perdagangan Wall Street tercatat mencapai 7,80 miliar saham, di atas rata-rata 7,23 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Suku Bunga The Fed Tetap, Wall Street Naik Terbatas

Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street sedikit berubah. The Federal Reserve menyatakan inflasi akan meningkat pada 2018 menjadi katalis terhadap wall street. Dengan kenaikan inflasi memberikan sinyal kalau suku bunga acuan naik pada Maret.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu (Kamis pagi WIB), indeks saham Dow Jones naik 72,57 poin atau 0,28 persen ke posisi 26.149,46. Indeks saham S&P 500 naik tipis 1,4 poin atau 0,05 persen ke posisi 2.823,83. Kemudian indeks saham Nasdaq bertambah 9 poin atau 0,12 persen ke posisi 7.411,48.

Hasil pertemuan bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) menjadi katalis pergerakan wall street. The federal Reserve mempertahankan suku bunga usai pertemuan dalam dua hari ini. Meski suku bunga tetap pada awal 2018, suku bunga diperkirakan tetap naik secara bertahap pada 2018.

"Mereka (the Fed-red) lebih percaya diri dengan harapkan kenaikan inflasi," ujar Kevin Logan, Ekonom HSBC Securities, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (1/2/2018).

The Federal Reserve menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali pada 2017. Diperkirakan suku bunga akan kembali naik sebanyak tiga kali pada 2018. Selain itu, bank sentral AS juga akan memangkas neraca sesuai jadwal.

"The Fed melihat pertumbuhan inflasi. Mereka tetap akan menaikkan suku bunga sebanyak tiga kali, dan bahkan empat," kata Portfolio Manager, Resource Credit Income Fund, Mike Terwillger.

Adapun tanda ekonomi kuat lainnya dengan rilis laporan tenaga kerja ADP yang menunjukkan penambahkan tenaga keerja sektor swasta sebanyak 234 ribu pada Januari 2018. Angka ini lebih baik dari yang diharapkan analis skeitar 185 ribu.

Adapun wall street sempat menguat tinggi pada awal perdagangan. Ini didorong kenaikan saham Boeing yang prediksi laba bersih akan lebih baik, dan diharapkan dapat catatkan rekor untuk pemesanan pesawat komersial. Saham Boeing naik 4,6 persen. Selain itu, di antara 11 sektor saham S&P 500, saham teknologi membukukan kenaikan seiring investor cermati saham Facebook dan Microsoft.

Saham perawatan kesehatan masih tertekan sehingga bebani indeks saham acuan utama wall street. Hal itu karena perusahaan raksasa Amazon, Berkshire Hathaway, dan JP Morgan bergabung untuk memangkas biaya kesehatan pegawai di AS.

Sektor perawatan kesehatan S&P pun turun 1,6 persen. Sementara itu, analis juga mengharapkan pertumbuhan kinerja laba perusahaan masuk S&P 500 naik 13,7 persen. Sejauh ini, 37 persen perusahaan melaporkan kinerja, dan 80,5 persen mencatatkan kinerja di atas harapan.

 

Artikel Selanjutnya
IHSG Berada di Zona Hijau pada Akhir Pekan
Artikel Selanjutnya
Wall Street Menguat Dipicu Pernyataan Trump soal Dolar