Sukses

Bursa Asia Tergelincir Mengekor Wall Street

Liputan6.com, Tokyo - Bursa Asia anjlok setelah Wall Street mengalami penurunan terbesar sejak 2011 seiring merosotnya kepercayaan investor terhadap faktor-faktor yang menjadi landasan pasar.

Melansir laman Reuters, Selasa (6/2/2018), Bursa Australia susut 2,7 persen pada awal perdagangan ke tingkat terendah sejak Oktober. Sementara indeks Nikkei Jepang melemah lebih dari 4 persen.

Bursa Asia tampaknya mengikuti Bursa saham Amerika Serikat (AS). Wall Street yang anjlok pada penutupan perdagangan Senin (Selasa pagi waktu Jakarta), dengan indeks Dow turun hampir 1.600 poin selama sesi tersebut.

Ini merupakan penurunan intraday terbesar dalam sejarah, seiring langkah investor yang bergulat dengan kenaikan imbal hasil obligasi dan inflasi yang berpotensi menguat.

Patokan indeks S & P 500 dan Dow mengalami penurunan persentase terbesar sejak Agustus 2011.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1.175,21 poin atau 4,6 persen menjadi 24.345,75. Sementara indeks S&P 500 kehilangan 113,19 poin atau 4,10 persen menjadi 2.648,94 dan Nasdaq Composite turun 273,42 poin atau 3,78 persen menjadi 6.967,53.

"Sejak musim gugur yang lalu, investor bertaruh pada kondisi ekonomi goldilocks ekspansi ekonomi yang solid, meningkatkan pendapatan perusahaan dan inflasi yang stabil. Tapi kondisi ini sepertinya sudah berubah," kata Norihiro Fujito, Ahli Strategi Investasi Senior Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities.

 

Indeks S & P 500 berakhir turun 7,8 persen dari rekor tertinggi pada 26 Januari, sementara Dow turun 8,5 persen dari waktu itu.

Sektor keuangan, kesehatan, dan sektor industri mencatat penurunan terbesar. Penurunan menyebar luas karena semua kelompok utama pada indeks utama S&P utama turun setidaknya 1,7 persen. Semua 30 komponen industri Dow blue-chip berakhir negatif.

Dengan penurunan yang terjadi kali ini, indeks S & P 500 menghapus kenaikannya selama 2018 dan justru sekarang turun 0,9 persen pada 2018.

 

1 dari 2 halaman

Mata Uang

Adapun imbal hasil obligasi 10 tahunan AS naik 2,88 persen. Ini merupakan posisi tertinggi dalam empat tahun dan 47 basis poin lebih tinggi dari 2,411 persen pada akhir 2017.

Sementara saham Eropa juga jatuh, dengan Dax Jerman mencapai level terendah 4 bulan.

Di pasar mata uang, niai tukar Euro turun ke posisi US$ 1,2379. Angka ini tidak jauh dari level terendah minggu lalu di US$ 1,2335, sebuah terobosan yang bisa mendorong koreksi lebih lanjut setelah Euro melaju ke level tertinggi 3 tahun sebesar US$ 1,2538 pada akhir bulan lalu.

Terhadap yen, dolar turun ke level 109,14, setelah kehilangan satu persen pada hari Senin.

Artikel Selanjutnya
IHSG Berada di Zona Hijau pada Akhir Pekan
Artikel Selanjutnya
Jelang Tutup Pekan, IHSG Cenderung Tertekan