Sukses

BI: Rupiah Melemah Efek Rencana Kenaikan Suku The Fed

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah terus menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pagi hingga siang hari ini, pergerakan kurs rupiah berada di kisaran 13.584 hinga 13.641 per dolar AS.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara mengatakan, pelemahan rupiah tersebut bukan suatu cerminan dari fundamental ekonomi Indonesia. Sebab, bukan hanya rupiah saja yang melemah, tapi juga mata uang negara lain.

"Negara-negara lain currency-nya menguat, kita menguat. Sekarang ada volatilitas temporer ya negara-negara lain juga ada pelemahan ya Indonesia juga currency-nya melemah sedikit," ujar dia di kawasan Kuningan, Jakarta, Kamis (8/2/2018).

Dia menjelaskan, pelemahan rupiah tersebut merupakan efek dari rencana Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) yang akan menaikkan suku bunga acuannya pada Maret 2018. Sehingga pelemahan tersebut dinilai sebagai suatu hal yang wajar.

"Kalau kita sekarang ekspektasi Maret kenaikan (suku bunga The Feb) pertama di 2018, berarti volatilitas (nilai tukar) di Februari ini suatu hal yang normal saja," kata dia.

Menurut Mirza, yang harus dilakukan Indonesia dalam menghadapi pelemahan ini adalah dengan meningkatkan kinerja ekspor baik barang maupun jasa. Dengan demikian, pelemahan tersebut tidak berdampak pada neraca perdagangan dan suplai valas bisa tetap terjaga.

"Rupiah kan tergantung demand dan supply. Yang penting adalah kalau kita bisa meningkatkan ekspor brang dan jasa, tentunya transaksi neraca ekspor barang dan jasa kita bisa surplus. Malaysia, Thailand, Singapura ekspor barang dan jasanya surplus. Kalau kita masih defisit. Memang bisa dikendalikan di bawah 2 persen PDB. Kalau surplus berarti suplai valasnya juga tinggi," tandas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Rupiah Kembali Melemah Menuju 13.650 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Kamis ini. Dolar AS terus menguat di kawasan Asia karena pelaku pasar terus mencari aset safe haven

Mengutip Bloomberg, Kamis (8/2/2018), rupiah dibuka di angka 13.595 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.555 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.584 per dolar AS hingga 13.641 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 0,53 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.602 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.533 per dolar AS.

Dolar AS memang kembali menguat di kawasan Asia setelah mengalami tekanan yang cukup dalam. Penguatan dolar AS ini karena penguatan euro dan kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS.

Namun memang, penguatan dolar AS tidak terlalu tinggi karena investor masih juga menyimpan mata uang tersebut melihat volatilitas pasar saham yang cukup tinggi.

"Dolar AS masih bertahan karena ketidakpastian di pasar ekuitas yang kemungkinan akan terus berlanjut ke depannya," jelas analis Mizuho Securities, Tokyo, Masafumi Yamamoto dikutip dari Reuters. 

"Imbal hasil surat utang AS yang naik menjadi tenaga bagi dolar AS untuk terus menguat," tambah analis Sumitomo Mitsui Trust Bank,Ayako Sera.

 

Artikel Selanjutnya
IHSG Berada di Zona Hijau pada Akhir Pekan
Artikel Selanjutnya
Jelang Tutup Pekan, IHSG Cenderung Tertekan