Sukses

S&P 500 Ditutup Menguat Usai Terombang-Ambing Sejak Awal Pekan

Liputan6.com, Jakarta - Wall Street atau bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat lebih dari 1 persen pada penutupan perdagangan Jumat. Penguatan ini memberikan sedikit angin segar kepada investor karena pada hari-hari sebelumnya Wall Street mengalami guncangan yang cukup keras.

Mengutip Reuters, Sabtu (10/2/2018), Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 330,44 poin atau 1,38 persen menjadi 24.190,9. Sedangkan S&P 500 naik 38,55 poin atau 1,49 persen menjadi 2.619,55. Untuk Nasdaq Composite menambah 97,33 poin atau 1,44 persen menjadi 6.874,49.

Meskipun pada perdagangan Jumat mengalami kenaikan jika dihitung secara mingguan Wall Street mengalami pelemahan yang cukup dalam.

S&P 500 turun 5,2 persen dalam sepekan dan merupakan presentase penurunan terbesar dalam satu pekan sejak Januari 2016 atau dalam dua tahun.

Dalam perdagangan Jumat, S&P 500 mampu menguat 2,2 persen tetapi juga mengalami tekanan yang cukup dalam dengan turun 1,9 persen. Volatilitas yang cukup lebar ini tidak hanya dialami oleh S&P 500 saja tetapi juga beberapa indeks acuan lainnya seperti Dow Jones dan Nasdaq.

"Saya kira dengan volatilitas yang cukup tinggi seperti ini pelaku pasar tidak mendasarkan pada faktor fundamental," jelas analis Columbia Threadneedle Investments, Boston, Anwiti Bahuguna.

"Ini sangat tidak stabil," tambah dia.

1 dari 2 halaman

HomeBisnisSaham Aksi Jual Marak

Pada perdagangan sehari sebelumnya, Wall Street anjlok. Mayoritas indeks utama turun 2 persen dipicu maraknya aksi jual oleh investor yang khawatir terhadap kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, tiga indeks utama Wall Street menukik tajam. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 542,48 poin atau 2,18 persen ke level 24.350,87.

Disusul S & P 500 yang kehilangan 50,06 poin atau 1,87 persen ke level 2.631,6, dan indeks Nasdaq Composite turun signifikan 146,56 poin atau 2,08 persen ke level 6.905,43.

"Kondisi ini belum usai. Prediksi saya hal ini terus berlanjut," kata Senior Managing Partner Meridian Equity Partners di New York, Jonathan Corpina.

Anjloknya bursa saham AS diwarnai maraknya aksi jual dari investor dalam beberapa hari terakhir karena kekhawatiran kenaikan inflasi dan imbal hasil obligasi, yang mengacu pada laporan data ketenagakerjaan AS pada Januari.

Pernyataan Bank Sentral Inggris (Bank of England) bahwa tingkat suku bunga berpeluang naik lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya menjadi sentimen kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam tenor 10 tahun mencapai 2,884 persen atau mendekati puncaknya dalam empat tahun ini sebesar 2,885 persen.

Artikel Selanjutnya
IHSG Berada di Zona Hijau pada Akhir Pekan
Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Dekati Level Tertinggi Imbas Dolar AS Tertekan