Sukses

BPS Bakal Beri Gaji UMR buat Petugas Sensus Penduduk 2020

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) akan merekrut pegawai untuk memenuhi kebutuhan petugas pada saat sensus penduduk 2020. Sensus penduduk (SP) akan dilakukan pada Juni 2020.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS M Sairi Hasbullah menuturkan, petugas yang dibutuhkan kurang lebih satu juta petugas pencacah. Petugas sensus penduduk tersebut terdiri dari 800 ribu petugas pencacah dan sisanya buat posisi supervisor, serta lainnya. Sairi menuturkan, penghasilan petugas tersebut akan di atas upah minimum regional (UMR). Petugas pencacah ini hanya bertugas selama sebulan.

"Gajinya pasti di atas UMR. Tapi kami belum mematok di atas UMR provinsi mana, karena tergantung anggaran. Kalau tiba-tiba berubah repot," ujar dia.

Adapun Kepala BPS, Suhariyanto menuturkan dibutuhkan 700-800 ribu petugas dalam rangka menyukseskan program SP 2020 nanti. "Iya, kira-kira 700 participants dan akan diselenggarakan Juni setelah puasa atau Lebaran," tutur Suhariyanto.

Mengenai tantangan SP 2020 Juni nanti, Suhariyanto menambahkan kemungkinan kesulitan terletak pada digitalisasi yang terjadi saat ini. "Kami akan buatkan aplikasi untuk memudahkan (generasi) milenial daftar, karena semuanya serba cepat sekarang," ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

1 Juta Petugas Bakal Kawal Sensus Penduduk 2020

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengerahkan sekitar satu juta petugas pencacah, supervisor, dan posisi lainnya dalam rangka menyukseskan Sensus Penduduk (SP) tahun 2020. Sensus Penduduk rencananya akan berlangsung pada Juni 2020, dan diawali dengan sensus mini pada Juli 2018.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, M Sairi Hasbullah mengungkapkan, Sensus Penduduk yang diselenggarakan Indonesia merupakan nomor empat terbesar di dunia, setelah China, India, dan Amerika Serikat (AS).

"Di SP 2020, akan melibatkan 800 ribu pencacah. Belum lagi supervisor, dan lainnya, jadi kurang lebih satu juta petugas terlibat di luar organik BPS," ujar dia dalam Kick Off SP Tahun 2020 di kantor BPS, Jakarta, Rabu (14/2/2018).

Sensus Penduduk 2020 rencananya digelar pada Juni 2020. Dalam pelaksanaannya, Sairi mengaku, akan menghadapi tantangan yang berkaitan dengan isu privasi yang makin dominan.

"SP 2020 berhadapan dengan isu privasi yang makin dominan, kepercayaan masyarakat, dan waktu luang yang sulit ditemui. Masyarakat semakin individualis, tidak seperti di tahun 1990-an, mereka menyambut antusias kalau ada petugas BPS yang datang untuk sensus," jelas Sairi.

Oleh karena itu, BPS akan menggunakan inovasi dalam metode pengumpulan data di lapangan.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, BPS akan menggunakan tiga jenis metode pencacahan, yakni PAPI (Paper and Pencil Interviewing), CAPI (Computer Assisted Personal Interviewing), dan CAWI (Computer Assisted Webinterviewing).

"Kita juga akan memanfaatkan teknologi geospasial dalam kerangka induk dan pengumpulan data, dan tiga pendekatan dalam metode pencacahan CAPI, CAWI, dan PAPI sehingga pencacahan SP 2020 lebih mulus dan hasilnya lebih berkualitas," tutur Suhariyanto.

Dalam pelaksanaan SP 2020, BPS akan memenuhi tiga prinsip, yakni akurat, banchmark, dan komprehensif.

"Hasil SP harus akurat karena akan menjadi banchmark karena datanya komprehensif. Hasil SP 2020 sangat penting untuk bisa menjadi penajaman target di kementerian/lembaga guna mendorong pembangunan nasional," tandas Suhariyanto.

Artikel Selanjutnya
8 Negara dengan Utang Paling Sedikit di Dunia
Artikel Selanjutnya
Yang Panen yang Menolak Impor