Pengusaha-pengusaha yang Gagal di Bisnis Penerbangan

on Feb 05, 2013 at 20:32 WIB

Bangkrutnya maskapai penerbangan Batavia Air semakin memperteguh anggapan bahwa angkutan udara bisnis ini memiliki risiko yang sangat besar. Ketatnya persaingan disertai ketentuan ketat dan permodalan besar menuntut pengelola bisnis ini harus pintar mencari celah untung.

Telah banyak pengusaha bahkan mantan presiden yang mencoba peruntungan dalam bisnis padat modal ini, namun akhirnya harus rela melikuidasi perusahaan.

Pengamat penerbangan, Alvin Lie, saat diwawancarai Liputan6.com menilai ada banyak hal yang menyebabkan banyak maskapai nasional bertumbangan. "Ini terjadi meski industri penerbangan nasional sedang tumbuh," ujar dia.

Mengutip dari berbagai sumber, berikut adalah para pengusaha yang gagal meretas bisnis di industri penerbangan nasional

1. Air Wagon Internasional Airline (Awair)
Pendiri: Abdurrahman Wahid dan 4 orang lainnya

Kurang dari sebulan sebelum pengangkatan dirinya sebagai Presiden RI ke-4 di Indonesia, Abdurrahman Wahid atau tenar dikenal Gus Dur tiba-tiba mencoba peruntungannya di bisnis penerbangan.

Gusdur bersama empat orang pendiri lainnya membangun maskapai penerbangan Air Wagon Internasional Airline (Awair). Banyak pihak yang memelesetkan singkatan tersebut menjadi Abdurrahman Wahid Air. Maskapai ini memperoleh izin dari Departemen Perhubungan pada 2000.

Sejak dipastikan melenggang sebagai orang nomor satu di Indonesia, Gus Dur memilih mundur dari Awair dan menyisakan empat orang pendiri dalam jajaran perusahaan. Enam bulan setelah Gus Dur muncur, langkah yang sama diambil pendiri lainnya. Otomatis daftar pendiri Awair tinggal tersisa tiga orang.

Maskapai penerbangan ini pun hanya bisa melayani pengguna jasa angkutan udara selama setahun sejak memperoleh izin. Awair akhirnya terpaksa menghentikan operasional bisnisnya.

Berbeda dengan maskapai lain, nasib beruntung menaungi Awair yang diambil alih oleh Air Asia. Investor baru ini pun mengubah orientasi bisnis perusahaan menjadi maskapai penerbangan berbiaya rendah dan mengganti nama Awair menjadi PT Indonesia Air Asia.

2. Sempati Air
Pemegang Saham: Tri Usaha Bhakti, Nusamba (Bob Hasan), Humpuss (Hutomo Mandala Putra)

Perusahaan yang awalnya hanya angkutan sewaan untuk pekerja Migas ini menjelma menjadi maskapai penerbangan kelas atas terhitung sejak 1989. Hal ini tak terlepas dari langkah ekspansif perusahaan yang mendatangkan 6 pesawat baling-baling F-27. Setahun kemudian pemerintah memberikan izin kepada Sempati untuk menambah pesawat jet.

Nama Sempati diambil dari nama manusia elang raksasa, kakak dari Jatayu. Dimata banyak orang, Sempati dianggap akronim sindiran 'Sembilan Panglima Tinggi' karena merupakan usaha penerbangan charter dari PT Tri Usaha Bahkti (Truba) dari Yayasan Kartika Eka Paksi yang tak lain adalah milik pimpinan tinggi Angkatan Darat.

Semula pemilik saham Sempati dikuasai oleh tiga pihak yaitu Nusantara Ampera Bakti (Nusamba) lewat tokohnya Bob Hasan yang memiliki 35%, Truba (40%), dan Humpuss (25%). Masuknya Asean Aviation Inc (AAI) membuat porsi saham ketiga pemilik bisnis ini menciut.

Disebut-sebut salah satu pemegang saham Sempati adalah putra mantan presiden Soeharto, Hutomo Mandala Putra yang berposisi sebagai presiden komisaris.

Ambisi untuk menjadi maskapai penerbangan terbesar Indonesia mulai menunjukan gejala kurang menggembirakan ketika perusahaan batal menggelar penawaran umum perdana saham (IPO) pada 1996. Tumpukan utang ditambah ketidakberesan kinerja keuangan membuat Sempati makin limbung di tengah ketatnya persaingan bisnis.

Badai besar melanda Sempati ketika Indonesia terserang krisis moneter parah pada 1997. Berbagai efisiensi dengan menghilangkan layanan inovasi khas Sempati membuat konsumen loyal kabur.

Anjloknya kurs rupiah hingga Rp 17 ribu per dollar AS dari sebelumnya di kisaran Rp 2.000 membuat pendarahan pada kinerja keuangan Sempati. Maklum penerimaan yang diterima perusahaan dalam bentuk rupiah sementara utang yang harus dibayar menggunakan denominasi dolar AS.

3. Adam Air
Pendiri: Sandra Ang, Agung Laksono,
Pemegang saham: Sndra Ang, Adam Suherman (hingga 2007) dan Harry Tanoesudibjo lewat PT Bhakti Investasma hingga 2008

Tak ada maskapai yang paling diingat masyarakat Indonesia akibat kecelakaannya selain Adam Air. Pada 1 Januari 2007, sebanyak 96 penumpang dan 6 awak hingga saat ini masih hilang akibat kecelakaan pesawat di perairan Majene, Sulawesi Barat.

Usai kecelakaan besar tersebut, nasib Adam Air seolah sedang menuju kebangkrutannya. Pada 18 Maret 2008, izin terbang dicabut Departemen Perhubungan yang menyatakan Adam Air tidak diizinkan lagi menerbangkan pesawatnya berlaku efektif mulai pukul 00.00 tanggal 19 Maret 2008. Sedangkan AOC (Aircraft Operator Certificate)-nya juga ikut dicabut pada 19 Juni 2008, yang berarti mengakhiri semua operasi penerbangan Adam Air.

Bernama resmi, PT Adam SkyConnection Airlines, Adam Air didirikan oleh Sandra Ang dan Agung Laksono, mantan Ketua DPR RI. Maskapai ini mulai resmi beroperasi pada 19 Desember 2003.

Munculnya berbagai insiden dan kecelakaan maskapai penerbangan di Indonesia menjadi mimpi buruk bagi Adam Air. Hasil pemeringkat Departemen Perhubungan menempatkan Adam Air pada peringkat II yang berarti hanya memenuhi syarat minimal keselamatan.

Akibatnya, Adam Air mendapat sanksi administratif yang ditinjau ulang kembali setiap 3 bulan. Setelah tidak ada perbaikan kinerja dalam waktu yang ditetapkan, Air Operator Certificate Adam Air kemudian dibekukan.

Adam Air sebetulnya berpeluang diselamatkan ketika April 2007, PT Bhakti Investama melalui anak perusahaannya Global Air Transport membeli 50% saham Adam Air dari keluarga Sandra Ang dan Adam Suherman. Sayang tak adanya perbaikan keselamatan dan transparansi membuat anak perusahaan dari Harri Tanoe Sudibjo ini menarik seluruh sahamnya pada 14 Maret 2008.

4. Bouroq Indonesia Airlines
Pendiri dan Pemegang saham: Jarry Albert Sumendap

Maskapai penerbangan yang berdiri sejak April 1970-an memiliki pusat operasional di Jakarta dan Balikpapan. Bouroq merupakan perusahaan penerbangan yang didirikan oleh JA Sumendap berambisi menjadi maskapai yang mampu menghubungkan Kalimantan dengan beberapa daerah lain di Indonesia.

Untuk menambah kekuatan bisnisnya, Sumendap juga memiliki maskapai penerbangan lain Bali Air yang menjalin kerjasama dengan Bouroq.

Berkekuatan armada Douglas DC-3s dan turboprop Haweker Siddeley HS 748, Bouroq dan Bali Air mampu melayani penerbangan domestik. Sayang krisis keuangan yang melanda membuat kedua maskapai ini menutup operasionalnya pada 2005.

Penerbangan terakhir Bouroq berlangsung pada Juli 2005 dan pada 2007 izin penerbangan Bouroq dicabut otoritas berwenang.

5. Linus Air
Pendiri: Julius Indra

Linus Airways adalah salah satu maskapai penerbangan regional Indonesia. Maskapai ini melayani beberapa kota di Indonesia antar lain Pekanbaru, Medan, Semarang, Palembang, Batam dan Bandung. LINUS sendiri merupakan kependekan dari "Lintasan Nusantara". Linus Airways berbadan hukum perseroan PT Linus Airways sejak 1 Juni 2004 ini, baru mengantongi izin terbang (Air Operator Certificate/AOC) no 121-029 dari Departemen Perhubungan sejak 13 Februari 2008.

Dikarenakan alasan kesulitan likuiditas maka terpaksa pemerintah secara resmi telah mencabut izin rute Linus Air, sehingga menghentikan layanannya sejak 27 April 2009.

Berbekal pengalaman sebagai pencarter, Indra mengibarkan bendera Linus (Lintas Nusantara) Airways dengan modal sekitar Rp 100 miliar. Menyadari tidak punya pengalaman di bisnis ini, Indra mengajak beberapa orang yang punya jam terbang bergelut di bisnis penerbangan. Beberapa nama yang diajaknya mendirikan Linus, antara lain: Capt. D. Andhika R. (Direktur Pengelola), Harry Priyono (Direktur Komersial), Capt. Tutang dan Hari Subowo (Direktur Teknik). Tiga nama pertama merupakan mantan eksekutif pentolan di Sriwijaya Air.

6. Jatayu Gelang Sejahtera (Jatayu)
Pendiri: Wienardi Lie (CEO Trophy Tour & travel)

Jatayu Gelang Sejahtera atau Jatayu Airlines merupakan salah satu maskapai penerbangan yang memanfaatkan kesempatan dibukanya keran investasi di sektor ini. Berbasis di Jakarta, Jatayu melayani penerbangan domestik dan internasional sejak 2000.

Sayangnya ketidakmampuan perusahaan memenuhi sejumlah kualifikasi keselamatan penerbangan, memaksa pemerintah mencabut izin terbang atau AOC pada 26 Juni 2007. Departemen Perhubungan sebetulnya telah memberikan tenggat waktu 3 bulan agar perusahaan masih bisa merestrukturisasi bisnisnya.

Namun hingga batas waktu yang diberikan, Jatayu bersama tujuh maskapai lainnya gagal memenuhi ketentuan yang diminta.

7. Batavia Air
Pendiri: Yudiawan Tansari

Batavia Air memulai bisnisnya sejak tahun 2002. Yudiawan Tansari merupakan pemilik dari perusahaan yang bermula dari bisnis keluarga tersebut. Sejak saat itu, Batavia terus berkembang menjadi maskapai penerbangan domestik dan tumbuh siginifikan.

Sebelum mendirikan maskapai penerbangan Batavia, Yudiawan sebetulnya telah berkecimpung dalam dunia penerbangan dengan mendirikan perusahaan jasa travel, PT Setia Sarana Tour & Travel pada 1973. Berbekal pengalaman selama dua dekade ini, Yudiawan memutuskan untuk masuk dalam bisnis penerbangan.

Pada 2006, Yudiawan sebetulnya telah memiliki rencana untuk menjual bisnis keluarganya tersebut. Namun hasrat tersebut diurungkan.

Seiring waktu, Batavia sebetulnya berpeluang untuk menjual bisnisnya setelah raksasa penerbangan murah asal Malaysia, Air Asia, berminat membeli 100% saham perusahaan. Sayangnya pada Oktober 2012, Air Asia Berhad dan mitranya PT Fersindo Nusaperkasa memutuskan membatalkan rencana pembelian saham Batavia. Air Asia memilih untuk mengajak kerjasama operasional dengan perusahaan tersebut.

Kendati masih bisa beroperasi beberapa tahun, kesulitan keuangan dan makin ketatnya persaingan membuat operasional Batavia Air makin pincang. Puncaknya terjadi ketika International Lease Finance Corporation (ILFC) mengajukan gugatan pailit PT Metro Batavia ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Palu hakim akhirnya memutuskan mengabulkan permohonan tersebut. Batavia mungkin takkan lagi terlihat di langit nusantara.(Shd)

Suka artikel ini?

0 Comments