IHSG Terjungkal Akibat Aksi Ambil Untung

on

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur di zona merah pada penutupan perdagangan Rabu (13/3/2013). IHSG terjungkal 18,87 poin (0,65%) ke level 4.835,439 akibat aksi ambil untung yang dilakukan investor.

Hingga penutupan perdagangan, sebanyak 133 emiten menyeret IHSG ke zona merah. Sekitar 106 emiten naik dan menahan penurunan IHSG, sementara 124 saham dalam posisi stagnan.

Pelaku pasar tercatat melakukan transaksi perdagangan sebanyak 173.302 kali dengan saham berpindah tangan sebanyak 7,605 miliar saham. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 7,27 triliun.

Hanya satu sektor emiten yang mengalami kenaikan yaitu sektor agribisnis yang naik 0,14%. Sementara sembilan sektor lainnya menekan IHSG.

Penurunan IHSG paling besar didorong oleh sektor kontruksi yang melemah 1,92%, aneka industri 1,05%, dan consumer goods 0,61%

Saham-saham yang menekan IHSG yaitu harga saham PT Astra International (ASII) turun Rp 100 menjadi Rp 7.950, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun Rp 50 menjadi Rp 9.900, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) turun Rp 50 menjadi Rp 5.150, PT Semen Indonesia (SMGR) turun Rp 350 menjadi Rp 18.000,  serta Bank BCA (BBCA) turun Rp 50 menjadi Rp 10.700.

Sementara saham-saham yang masih mencatat kenaikan Bank BRI (BBRI) naik Rp 100 menjadi Rp 8.900,  PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) naik Rp 300 menjadi Rp 22.850, serta PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) naik Rp 50 menjadi Rp 4.775.

Harga saham Indocement masih bisa bertahan di zona hijau setelah perseroan merilis kinerja perusahaan pada tahun lalu.

Emiten berkode INTP berhasil membukukan kinerja keuangan positif di tahun lalu. Hal ini terlihat dari penjualan semen di pasar domestik yang menembus 17,9 juta ton atau tertinggi dalam sejarah sejak 2005.

"Penjualan semen tahun lalu lebih tinggi 16,1% menjadi 17,9 juta ton dari 2011 sebesar 15,4 juta ton dan tahun 2005 sebesar 9,6 juta ton. Sedangkan total kapasitas produksi semen perseroan sendiri hingga saat ini mencapai 18,6 juta ton,"  ujar Direktur Indocement Tju Lie Sukanto.


Kenaikann volume penjualan ini diiringi dengan kenaikan harga jual rata-rata sebesar 7% di 2012. Hasilnya, pertumbuhan gemilang itu mengerek laba bersih sepanjang pada periode Januari-Desember tahun lalu.

"Keuntungan bersih kami melonjak sebesar 32,3% dari Rp 3,60 triliun di 2011 menjadi Rp 4,76 triliun hingga akhir Desember 2012," ujarnya. (Ndw)

Credit Ndw

Suka artikel ini?

0 Comments