by

Pembelian Pesawat Airbus A320 oleh Lion Air yang Penuh Rahasia

  • Ekonomi
  • 0
  • 22 Mar 2013 12:19
Tak ada desas-desus, tak ada rumor tiba-tiba pada Senin 18 Maret 2013 PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) menandatangani pembelian besar-besaran 234 pesawat terbang Airbus jenis A320 senilai US$ 24 miliar atau setara Rp 234,24 triliun. Sebuah kesepakatan bergengsi yang tersimpan rapi sampai-sampai terungkapnya baru di hari 'H'.

Mengagetkan sekaligus membanggakan tentu saja. Indonesia yang dikenal sebagai negara yang masih tumbuh di industri penerbangan komersialnya, ternyata memiliki maskapai yang begitu ekspansif dan mampu membeli pesawat dalam jumlah besar yang membuat dunia bisnis global terbelalak.

Uang senilai US$ 24 miliar atau setara Rp 234,24 triliun tentu saja bukan duit yang kecil dalam dunia bisnis internasional. Tak ada yang menyangka Lion Air mengikat perjanjian jual beli dengan rakasasa pesawat saingan Boeing tersebut, karena sebelumnya Lion Air telah membeli 230 unit pesawat Boeing.

Dengan Boeing, Lion Air membeli pesawat yang terdiri atas 201 unit B-737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900 ERS, dengan nilai yang juga maha besar US$ 21,7 miliar. Perjanjian jual beli itu disaksikan langsung Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua Bali pada 18 November 2011.
 
Tak ingin kalah gengsi dengan pembelian dari Boeing, rupanya Airbus memilih cara yang lebih prestisius untuk menjamu Lion Air. Pembelian besar-besaran itu ditandatangani di Istana Presiden Prancis dan disaksikan langsung sang Presiden Prancis Francois Hollande.

Semua berlangsung serba kejutan!

Berawal dari undangan mengunjungi pabrik Airbus Toulouse, Prancis yang diterima jurnalis dari berbagai media di Indonesia termasuk di dalamnya Liputan6.com. Sebelum ke Toulouse, rombongan singgah dan menginap di Hotel Sofitel Paris, Minggu (17/3/2013).

Tak disangka di hotel bintang lima tersebut, rombongan jurnalis bertemu dengan Bos Lion Air Rusdi Kirana.

Rusdi terlihat sedang berbincang dengan sejumlah orang asing di restoran hotel tersebut. Cukup mencurigakan memang, tapi di jadwal kunjungan yang diterima dari panitia penyelenggara, tidak ada jadwal apapun yang berhubungan dengan Lion Air.

Rusdi yang kelahiran 17 Agustus 1963 sempat menghampiri rombongan jurnalis Indonesia dan bersalaman lalu kembali menemui koleganya. Tak ada kecurigaan apa pun. Setelah itu rombongan jurnalis segera menuju ke kamar masing-masing untuk bersiap menghadiri agenda lain yang sudah menunggu.

Saat makan malam bersama dengan Deputy Head of Media Relations Airbus Jacques Rocca, wartawan sempat mengkonfirmasi soal pertemuan dengan orang nomor satu di Lion Air tersebut. Namun Rocca mengaku tidak mengetahui apa-apa terkait hal itu.

Keesokan harinya, semua terjawab sudah.

Saat sedang sarapan, lagi-lagi para jurnalis Indonesia bertemu dengan Bos Lion Air tersebut. Rusdi tidak hanya sendirian, dia ditemani oleh enam orang manajemen Lion Air seperti Direktur Niaga Lion Air Achmad Hasan dan Direktur Umum Lion Air Edward Sirait.

Di situ barulah ditanyakan maksud kedatangannya ke Prancis.

Rusdi pun membeberkan soal rencana pembelian 234 pesawat terbang Airbus jenis A320 senilai US$ 24 miliar atau setara Rp 234,24 triliun ke wartawan. Angka yang cukup fantastis.

"Kalau dikasih tahu dari kemarin nanti tidak surprise lagi," ungkap dia.

Lion Air mendapatkan perlakuan istimewa untuk membeli pesawat penumpang paling laris di dunia ini. Menurut Rusdi, seluruh pembiayaan pembelian pesawat tersebut berasal dari lembaga keuangan Eropa yang mengurus kredit ekspor (ECA/ European Export Credit Agencies) sehingga perseroan tidak perlu mengucurkan dana sepeserpun untuk membeli pesawat itu.

Setelah berbincang-bincang dengan Rusdi, panitia dari Airbus meminta rombongan jurnalis menaiki bus untuk menuju ke lokasi acara. Muncul dugaan, Airbus akan mengadakan konferensi pers soal pembelian pesawat oleh Lion Air karena tiba-tiba Direksi Lion dan petinggi Airbus juga ternyata masuk ke bis yang sama dengan kami.

"Jangan lupa paspor-nya dibawa," kata salah satu panitia saat kami turun dari bus.

Alangkah kagetnya, ternyata bus berhenti di depan Istana Elysee, istana presiden yang terletak di jantung kota Paris. Barulah wartawan tersadar bahwa penandatanganan kontrak pembelian pesawat tersebut akan disaksikan langsung oleh Presiden Prancis Francois Hollande.

Meski kaget, tapi ini adalah kesempatan langka dan tidak mungkin disia-siakan untuk mengabadikan kunjungan ke istana yang dibangun pada 1718 itu.

Sejumlah wartawan dari televisi lokal Prancis tampak sedang melaporkan peristiwa tersebut secara live di halaman istana. Rombongan wartawan Indonesia kemudian diajak oleh panitia untuk menuju ke ruangan acara.

Tiga kursi disiapkan untuk Rusdi Kirana, CEO and Presiden Airbus Fabrice Bregier dan Presiden Prancis Francois Hollande. Di depan panggung, disiapkan satu meja yang di atasnya tersedia dokumen dan satu miniatur pesawat Lion Air.

Bendera Indonesia dan Prancis nampak berdampingan, sebuah  podium juga disiapkan untuk tempat para petinggi tersebut memberikan kata sambutan.

"Ini adalah kontrak bersejarah antara perusahaan besar di Eropa dengan perusahaan penerbangan utama di Asia. Penandanganan kontrak ini bisa membantu mendorong penciptaan lapangan kerja, tidak hanya di Perancis tapi juga Eropa," ungkap Presiden Perancis Francois Hollande dalam sambutannya.

Hollande juga memuji Indonesia yang perekonomiannya bisa tetap tumbuh hingga di atas 6%. Dia juga menilai Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di dunia juga menjadi pasar yang menarik bagi Perancis.

Usai acara penandatanganan berlangsung, Hollande menyempatkan waktu untuk berfoto bersama dengan Rusdi dan Bregier. Acara seremoni tersebut hanya berlangsung sekitar 40 menit.

Tak perlu gembar-gembor, Lion Air dan Airbus menandatangani kesepakatan bisnis yang luar biasa. (Ndw/Igw)
Comments
Sign in to post a comment