Impor Masih Dibatasi, Pedagang Buah Gulung Tikar

  • Ekonomi
  • 0
  • 12 Apr 2013 12:40
Kebijakan pembatasan impor oleh pemerintah yang tidak diimbangi dengan optimalisasi produk lokal, mengakibatkan harga buah impor dan lokal tak kunjung turun.

Dampak lanjutannya, sejumlah pedagang di kawasan Pasar Buah Barito, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan terpaksa menutup lapak miliknya.

"Setengah ini bukannya belum buka,tapi memang pada tutup, ya gara-gara harganya yg naik itu," ungkap Triyati (50), pedagang Pasar Buah Barito saat berbincang dengan Liputan6.com, Jum'at (12/4/2013).

Dia  bercerita, pedagang lain yang merupakan teman seprofesinya itu terpaksa menutup usaha mereka karena sudah tak memiliki langganan lagi dan memiliki modal yang pas-pasan.

"Mereka itu kebanyakan jualan hanya mengandalkan dari pembeli harian, jadi tak punya langganan, modalnya juga pas-pasan," tutur dia.

Sementara wanita asal Klaten, Jawa Tengah ini mengaku cukup beruntung karena dirinya masih mampu berjualan.

Tri mengatakan jika dirinya bisa tetap berjualan karena memiliki pembeli langganan buah-buahan untuk parsel dari pembeli di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).

"Ya Alhamdulillah saya punya langganan, sering ada pesanan parsel untuk orang rumah sakit RSPP, ya sehari bisa 10-15 parsel," ungkap dia.

Dari pantauan terlihat, para pedagang sebagian besar masih mengandalkan penjualan buah impor kendati harganya terus melambung.

Apel merah misalnya, harganya melonjak dari Rp 400 ribu menjadi Rp 1 juta untuk satu kardus berisi 18 kilogram (kg).

Kemudian jeruk mandarin, harganya naik dari Rp 75 ribu untuk satu kardus berisi 20 kg menjadi Rp 400 ribu.

Untuk buah lokal, harga Apel Malang misalnya, naik menjadi Rp 30 ribu per kg dari harga sebelumnya Rp 15 ribu-Rp 20 ribu per kg.

Kemudian jeruk Pontianak saat ini harganya mencapai Rp 25 ribu- Rp 30 ribu per kg, dari sebelumnya sebesar Rp 17 ribu - Rp 20 ribu per kg.(Yas/Nur)
Comments 0
Sign in to post a comment
Terpopuler