Pasokan Tekstil RI Hanya Mampu Pasok 1,8% Kebutuhan Dunia

on

Menteri Perindustrian, MS Hidayat, mengungkapkan industri tekstil tanah air baru mampu memenuhi kebutuhan dunia sebesar 1,8%. Kondisi ini diperberat dengan munculnya perjanjian perdagangan bebas yang diikuti pemerintah Indonesia.

"Industri tekstil ditantang untuk terus tingkatkan daya saing sehingga lebih eksis di pasar internasional mengingat beberapa tahun terakhir bermunculan negara industri tekstil baru," tutur Hidayat, dalam Pembukaan Musyawarah Nasional Asosisi Pertekstilan Indonesia XIII, di Jakarta, Kamis (18/4/2013).

Hidayat mengatakan, industri tekstil tanah air memang mengalami pertumbuhan positif sepanjang 20112. Meski naik, laju pertumbuhan masih masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Kondisi ini, ujar Hidayat, terjadi karena perlambatan ekonomi dunia yang berdampak pada memburuknya perdagangan internasional, khususnya negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat dan Eropa.

Sementara itu, Ketua Umum API, Ade Sudrajat Usman, menilai upaya pelaku industri tekstil memenangkan persaingan menjadi semakin berat seiring menjamurnya pemain baru di bisnis tersebut.

Diakui Ade, untuk meningkatkan daya saing, hal yang harus diperhatikan adalah penguasaan teknologi baru dan kemampuan sumber daya manusia.

"Dalam hal penguasaan teknologi baru, kami juga dibantu Kemenperin melalui program revitalisasi dan restrukturisasi permesinan bagi industri TPT sejak 2007," aku Ade.

Data API menunjukan, pertumbuhan industri tekstil pada 2011 berada diatas rata-rata pertumbuhan industri manufaktur. Pada 2011 pertumbuhan industri TPT mencapai 7,5% diatas industri manufaktur yang sebesar 6,2%. (Est/Shd)

Credit Shd

Suka artikel ini?

0 Comments