by

Timur Tengah Panas Lagi, Harga Minyak Bisa US$ 100 per Barel

  • Energi & Tambang
  • 0
  • 06 Mei 2013 17:33
Kekacauan di Suriah setelah Israel menyerang target di dekat Damaskus hari Minggu (5/5/2013) membuat peta politik Timur Tengah kembali memanas. Panasnya perang ini bisa bikin harga minyak terbakar ke level US$ 100 per barel.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI)  pada Senin (6/5/2013), untuk pengiriman Juni berada di level US$ 96,14 per barel di New York Mercantile Exchange. Sedangkan harga minyak jenis Brent di pasar London  untuk pengiriman Juni di kisaran US$ 104,51 per barel.    
 
Berdasarkan hasil survei mingguan CNBC, harga minyak mentah di pasar Amerika nyaris mencapai US$ 100 per barel ini pada minggu ini. Kenaikan ini sebagai bentuk dari ketegangan yang menyulut ketakutan di tengah kekacauan di Timur Tengah.

Sembilan dari 11 responden, atau sebesar 82% mengharapkan kenaikan, sementara dua lainnya yakin pengalihan keuntungan dapat menekan ke nilai yang lebih rendah.

Pada sesi Minggu harga minyak di pasar Asia, meningkat hampir US$ 97 per barel setelah Israel melemparkan serangan yang kedua di Suriah.

Pasar minyak meraih 1,4% keuntungan setelah data Departemen Tenaga Kerja Amerika menunjukan perekonomiannya dengan adanya 165 ribu lapangan pekerjaan baru, melebihi estimasi rata-rata para pakar ekonomi yaitu 148 ribu lapangan pekerjaan. Angka pengangguran turun dari 7,6% menjadi 7,5%.

Sekjen PBB, Ban Ki-Moon menentang keras kekacauan di Suriah setelah Israel menyerang target di dekat Damaskus. Target serangan itu sebenarnya adalah rudal-rudal Iran untuk Hezbollah, seperti dilansir dari Reuters. Iran memerintahkan wilayah-wilayahnya untuk bersatu melawan Israel. Bagi Iran, inilah saat yang tepat untuk melatih tentara pemerintah Damaskus.

"Harga minyak sedang menuju US$ 100 per barel. Ini masa yang penuh ketidakpastian," ujar Jonathan Barratt, editor sekaligus pendiri komoditas surat kabar Barratt's Buletin, kepada Asia Squawk Box.

Serangan Israel tersebut, ditanggapi Amerika sebagai indikasi rezim Suriah telah menggunakan senjata kimia dalam perang . Presiden Barack Obama telah memberikan gambaran penggunaan senjata seperti red line dan pemerintah yang condong pada pilihan ini, termasuk tindakan militer yang mungkin terjadi.

"Jika mereka melihat buktinya, mereka tidak akan takut untuk menggunakan kekuatan militer. Karena itu, harga minyak premium akan segera bangkit," katanya.

Harga-harga minyak di pasaran dapat kembali pulih setelah pasar beralih fokus pada inventaris global yang tersedia. Persediaan minyak AS, minggu lalu, mencapai level tertinggi dalam tiga dekade terakhir, sementara persediaan minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan Amerika Utara melebihi 11% dari rata-rata tahun ini.

Amerika dinilai seharusnya meningkatkan dan mendekati tiga digit menghadapi musim semi di Amerika. Dalam delapan minggu terakhir, untuk pertama kalinya harga satu galon minyak meningkat di Amerika. Lonjakan harga minyak dan penekanan selisih harga minyak di penyuling dan SPBU, bertujuan untuk peningkatan harga yang lebih pesat ke depannya.

Harga rata-rata satu galon minyak bumi meningkat 0,84% selama dua minggu terakhir menjadi US$ 3,5447 per galon pada 3 Mei, menurut Survei Lundberg sekitar 2.500 SPBU melintasi Amerika.

Minyak seharga US$ 100 per barel bukanlah kesimpulan lalu, bahkan para peramal tetap berjaga-jaga terhadap beberapa peringatan kenaikan harga tidak bisa diredam

"Saya berharap WTI, harga minyak mentah lebih tinggi dari angka US$ 98 per barel karena jika gagal untuk menerobos angka tersebut maka harga minyak akan bergerak turun," ungkap Tom Webber, Penasihat Komoditas Senior di Portfolio Managers, Inc. Commodity Futures & Options, Los Angeles. (Cka/Ndw) (Ndw)
Comments
Sign in to post a comment