Pemerintah Beberkan Target Asumsi Dasar Ekonomi Makro ke DPR

on

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional menyoroti berbagai asumsi dasar ekonomi makro Indonesia tahun 2014. Proyeksi tersebut telah dipaparkan dihadapan para anggota dewan dalam Sidang Paripurna ke-23 Masa Persidangan IV Tahun 2012-2013.

Menteri PPN, Armida Alisjahbana mengatakan makro ekonomi ini akan banyak dipengaruhi pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) 2014.

"Pertumbuhan ekonomi tahun 2014 diproyeksikan berkisar 6,4%-6,9%, inflasi tahunan mencapai 3,5%-5,5%, tingkat bunga SPN 3 bulan 4,5%-5,5% dan nilai tukar rupiah berada dalam range Rp 9.600-Rp 9.800 per dolar Amerika Serikat," jelas dia di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Jakarta, Senin (20/5/2013).

Sementara itu, Armida mengaku, produksi minyak mentah Indonesia bakal mulai membaik seiring beroperasinya Blok Cepu di Jawa Tengah. Sehingga target lifting 2014 sekitar Rp 900 ribu-930 ribu barel per hari.

"Sedangkan asumsi lifting gas mencapai 1.240-1.320 ribu barel per hari setara minyak. Proyeksi ini diperkuat dengan patokan harga minyak mentah Indonesia yang diperkirakan sekitar US$ 100-120 per barel," tutur dia.

Jika dilihat sasaran pertumbuhan ekonomi 2014 tersebut masih di bawah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang diasumsikan sebesar 7%-7,6%.

Namun target tersebut menurut Armida mendapatkan tantangan besar dari krisis ekonomi global yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi 2012 dan 2013 tidak mencapai target RPJMN. Sehingga baseline direvisi ke bawah.

Seperti diketahui, pemerintah dalam RAPBN-Perubahan 2013 telah merevisi makro ekonomi Indonesia, antara lain pertumbuhan ekonomi sekitar 6,2%-6,4%, kurs rupiah berada di level Rp 9.500-Rp 9.600 per dolar AS. Sedangkan inflasi mencapai 6,9%-7,2%.

Armida menilai, 2014 yang merupakan tahun pemilu akan mengerek pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pemerintah.

"Perbaikan iklim usaha dan investasi, pembangunan infrastruktur, stabilitas ekonomi diharapkan menjadi pendorong laju pertumbuhan investasi," ujarnya.

Dari sisi kinerja ekspor, kata dia, perlu ditingkatkan terutama perbaikan daya saing produk manufaktur dan bernilai tambah, termasuk untuk produk jasa kreatif.(Fik/Nur)
Suka artikel ini?
Fiki Ariyanti
Fiki Ariyanti

  Full bio »

0 Comments