Harga BBM Naik, Apa yang akan Terjadi pada Indonesia?

on

Pemerintah memang masih memperjuangkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi kepada DPR, namun berbagai prediksi sudah banyak dimunculkan berbagai lembaga. Salah satu diantaranya berasal dari Citi Research.

Dikutip dari Laporan Citi Research bertajuk Asia Macro and Strategy Outlook, Selasa (28/5/2013), keputusan final rencana kenaikan harga BBM kemungkinan baru bisa diketahui pada pertengahan Juni 2013.

Dalam usulannya, pemerintah mengajukan kenaikan rata-rata harga BBM sebesar 33% dimana harga premium bakal naik 44% sementara solar 22%. Kenaikan tersebut diikuti rencana pemberian dana kompensasi.

Citi Research menilai usulan tersebut bakal berdampak pada berbagi sendi perekonomian di Indonesia. Dalam skala lebih besar, kenaikan harga BBM bakal membuat pertumbuhan ekonomi nasional yang semula ditaksir naik 6,2%, turun menjadi 6,1%.

Berikut adalah sektor-sektor yang bakal terimbas kenaikan harga BBM bersubsidi:

1. Pengeluaran Rumah Tangga

Naiknya inflasi akibat penyesuaian harga BBM, tak diragukan lagi bakal membuat masyarakat tak lagi leluasa dalam pengeluarannya. Dari hasil data Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) 2012, rata-rata konsumsi rumah tangga terhadap gas dan bahan makanan justru meningkat di awal tahun. Kondisi ini memang kerap terjadi ketika harga BBM bakal dinaikkan.

Dari hasil survei tersebut diperkirakan kalangan rumah tanggal bakal mengurangi pengeluaran untuk sejumlah barang untuk periode tertentu.

Diantara sejumlah pengeluaran yang bakal dibatasi, Citi memperkirakan masyarakat akan lebih berhemat untuk kendaraan dan reparasi, pulsa telepon seluler, barang-barang tahan lama, serta pakaian.

2. Investasi

Naiknya harga bahan bangunan harus menjadi perhatian serius. Tak bisa dibantah jika biaya transportasi yang melonjak membuat harga bahan bangunan seperti pasir dan bahan non logam bakal naik 19%.

Melihat fenomena itu, harga bahan bangunan diperkirakan baik naik seiring penyesuaian harga BBM.

Kondisi harus menjadi perhatian serius mengingat 85% dari struktur modal Indonesia berkaitan erat dengan sektor konstruksi.

Tak hanya dari segi harga, kontraksi pada sektor konstruksi juga bisa berakibat pada stabilitas ekonomi. Maklum, pembiayaan perbankan untuk sektor ini memegang peran penting khususnya pada proyek-proyek pemerintah.

Apalagi data BI menunjukan, 80% pembiayaan pembelian perumahan oleh masyarakat kelas menengaha di tanah air menggunakan jasa perbankan.

Kedua faktor tersebut bisa berdampak pada roda investasi Indonesia. Selain itu, voilatilitas nilai tukar juga bisa ikut terpengaruh dengan kondisi tersebut.

3. Bunga Kredit

Beruntung, Citi memperkirakan kenaikan harga BBM takkan secara langsung diikuti dengan naiknya suku bunga kredit ke level double digit. Walaupun diakui, fasilitas simpanan Bank Indonesia (FasBI Rate) diperkirakan bakal naik moderat sebesar 75 basis point.

Secara keseluruhan, pertumbuhan kredit usai kenaikan harga BBM bakal sedikit melambat di bawah 20% dari sebelumnya di level 22% pada Maret 2013.

4. Impor BBM

Kenaikan harga BBM sebesar 33-44%, diperkirakan bakal mengurangi volume impor minyak Indonesia. Hal ini membuat defisit transaksi neraca berjalan (current account) bakal menguat sekitar 0,2% dari PDB.

Lebih jauh, Citi memperkirakan potensi penurunan peringkat utang Indonesia bakal sedikit berkurang.

5. Nilai tukar Rupiah

Meski neraca pembayaran BI bakal menguat, Citi tak yakin nilai tukar rupiah bakal berubah dari kondisi biasa depresiasi. Citi memperkirakan nilai rukar rupiah berada di level Rp 9.800 per dollar AS untuk periode 0-3 bulan dan Rp 9.900 untuk 6-12 bulan.

6. Defisit APBN

Defisit anggaran pemerintah Indonesia diperkirakan bakal meningkat ke level 2,5% dari PDB dari posisi saat ini 1,7%. Dari kalkulasi Citi, nilai nominal defisit bakal naik ke level Rp 77 triliun. (Shd)

Credit Shd

Suka artikel ini?
Syahid Latif
Syahid Latif

  Full bio »

0 Comments