Sukses

Masih Adakah Telegram di Indonesia?

"Segera
arman jl gejayan no 400 c yogyakarta
selamat dan sukses atas wisudanya ttk jangan lupa fotonya dikirim ke flores
hans flores"

"Segera
Rudi jl ijen no 201 l solo
cepat pulang koma bapak masuk rumah sakit
kakak ina padangsidempuan"

Masih ingat dengan telegram? Ilustrasi di atas buat sekedar mengingatkan bagaimana singkatnya pesan-pesan dalam telegram. Dalam tempo 1-2 hari telegram pun sudah bisa diterima.

Alat telekomunikasi besutan PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) ini pernah jaya pada masanya sebelum era teknologi handphone.

Telegram sangat berguna sekali terutama untuk mengabarkan hal penting kepada sanak saudara maupun kolega kala itu.

Lalu bagaimana nasib telegram kini? Apakah masih ada fasilitas ini sekarang?

Ternyata jauh-jauh hari sebelum India yang menghentikan jasa layanan telegram setelah beroperasi selama 162 tahun lamanya pada 14 Juli 2013, Indonesia telah lebih dulu menutup jasa pengiriman telegram sekitar 3 sampai 4 tahun lalu.

"Layanan telegram dari Telkom sudah tidak ada. Sekitar 3-4 tahun lalu, itupun hampir dikatakan sudah tidak ada penggunanya," ujar VP Public Relation PT Telkom Arief Prabowo saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (6/8/2013).

Apa dasarnya Telkom menghentikan layanan ini?

Usut punya usut, Arief mengatakan hal ini terjadi seiring kemajuan teknologi. Sudah banyak layanan lain yang menggantikan fungsi telegram.

"Seperti email, pesan singkat, bbm dan produk-produk internet messaging lainnya," tutur dia.

Hal ini, menurut dia, mengubah gaya hidup masyarakat sehingga layanan telegram sudah tidak banyak peminatnya. Itu alasan Telkom pada akhirnya menghentikan pelayanan telegram.

Cukup menyedihkan sebenarnya. Sebab, pengabdian Telkom yang berawal pada 23 Oktober 1856, tepat saat dioperasikannya layanan telekomunikasi pertama dalam bentuk pengiriman telegram dari Batavia (Jakarta) ke Buitenzorg (Bogor). (Nur/*)


Artikel Selanjutnya
4 Presiden Kumpul di Istana, Apa Dampaknya ke Ekonomi RI?
Artikel Selanjutnya
Kisah Perjuangan Diplomasi Indonesia: Demi Tumpah Darah...