Sukses

Jurus Tekan Subsidi Tanpa Naikkan Harga BBM

Selama bertahun-tahun, subsidi bahan bakar minyak (BBM) terus membebani keuangan negara. Tahun ini saja, pemerintah harus membakar uang Rp 149,78 triliun demi menyediakan bahan bakar murah untuk masyarakat.

Belum lagi tahun depan, besaran subsidi BBM diprediksi mencapai Rp 131,22 triliun. Padahal sebenarnya dengan dana itu, Indonesia bisa membangun banyak infrastruktur seperti pembangkit listrik, jalan tol dan kilang minyak.

Tingginya subsidi BBM disebabkan biaya produksi BBM jauh lebih besar dari harga jualnya. Atas dasar, apakah harga BBM subsidi perlu dinaikkan demi menekan subsidi?

Pengamat Energi Darmawan Prasodjo berpendapat, pemerintah tidak perlu menaikkan harga untuk menekan subsidi BBM. Menurut dia, ada banyak cara untuk mengurangi alokasi subsidi. Salah satunya yaitu menyediakan energi alternatif sebagai pengganti BBM.

Langkah pertama yang bisa diambil pemerintah yaitu dengan merealisasikan program konversi BBM ke bahan bakar gas. Pasalnya, harga gas jauh lebih murah dari BBM. Saat ini harga keekonomian BBM mencapai Rp 9.500-Rp 10 ribu per liter, sementara gas hanya Rp 4.100 per liter setara premium (lsp).

Dengan beralihnya masyarakat ke gas, maka besaran subsidi BBM bakal turun drastis. Apalagi harga premium dan solar saat ini lebih mahal dari gas, yaitu Rp 6.500 untuk premium dan solar Rp 5.500.

"Untuk menarik investor membangun infrastrukturnya, harga gasnya bisa dinaikkan Rp 100 sebagai biaya transportasi. Itu akan menarik investor," terang Darmawan saat berbincang dengan Liputan6.com, Sabtu (14/9/2013).

Penggunaan gas untuk bahan bakar kendaraan juga diterapkan di banyak negara. Selain lebih murah, gas juga energi yang ramah lingkungan.

Pemerintah harus cepat bergerak agar program ini bisa terealisasi. Mengingat, Indonesia juga memiliki sejumlah proyek gas skala besar yang sedang dikembangkan sehingga nantinya bisa memasok gas lebih banyak ke domestik.

"Contoh di Pakistan saja sudah pakai 70%-80% gas, padahal negara itu tidak punya gas. Pakistan rela beli gas dari spot market karena keekonomian memang lebih baik dari BBM," ungkap lulusan dari Texas A & M University tersebut.

Opsi lain yang bisa diambil yaitu mengembangkan ethanol sebagai pengganti BBM. Pengembangan ethanol sebaiknya tidak menggunakan bahan baku minyak jarak karena tidak ekonomis, tapi memakai singkong gajah.

Pemanfaatan ethanol sebagai bahan bakar bisa membantu Indonesia mengurangi impor minyak dan BBM dari sejumlah negara Timur Tengah.

"Strategi pemenuhan energi nasional yaitu dengan memberi energi semurah-murahnya untuk rakyat. Dengan catatan energi itu berbasis ekonomi sehingga dalam prosesnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan," papar dia.

Jika serius mengembangkan ethanol sebagai energi alternatif, pemerintah disarankan membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang khusus menangani ethanol. Tak hanya itu, kepastian permintaan dari konsumen domestik juga perlu dijamin.

"Misalnya, dari 47 juta kiloliter BBM subsidi, itu ditetapkan berapa kiloliter yang pakai ethanol dan dianggarkan juga di sana," kata dia.

Senada dengan Darmawan, pengamat perminyakan Kurtubi juga berpendapat kenaikan harga BBM tidak bisa menekan subsidi karena konsumsi BBM masyarakat akan terus meningkat.

"Dari sisi harga meningkat, tapi kan volumenya terus naik karena ekonomi juga tumbuh," ungkap dia.

Jika pemerintah berniat mengurangi subsidi dan konsumsi BBM dalam jangka panjang yaitu dengan mempercepat program konversi BBM ke gas.

"Yang perlu diperbaiki agar keuangan negara tertolong yaitu supaya Pertamina dan pemerintah membeli minyak dan BBM langsung dari produsen biar lebih murah, tidak lewat pihak ketiga," jelas Kurtubi. (Ndw)
Artikel Selanjutnya
Ditinggal Mudik, Konsumsi Bensin di Jakarta Turun 23 Persen
Artikel Selanjutnya
Kenaikan Penumpang Bandara Halim Capai 24 Persen